Hari ini aku telah selesai melakukan pengamatan pada dunia virtual. Dengan masuk ke dunia mereka. Dunia yang luar biasa. Dunia yang merupakan dunia pelarian. Di dunia virtual kita bisa dapatkan apa saja yang kita inginkan dengan mudah. Melakukan apa pun yang kita inginkan tanpa perduli efek yang ditimbulkan.


Sebagian besar dari mereka yang mempunyai skill di atas rata-rata para pemain atau sering disebut king skill memiliki peran yang kurang baik di real (kehidupan nyata). Mereka yang mengalami kesulitan di dunia real akan lari ke dunia virtual dan menciptakan pribadi yang bertolak belakang dengan pribadi di real. Dengan susah payah mereka akan mencapai level paling tinggi atau level terakhir yang telah ditetapkan oleh program. Dan sebagian besar dari mereka akan menjadi terhormat dan disegani di dunia virtual.

Tidak sedikit dari mereka rela mengeluarkan uang hanya untuk terlihat jaya di dunia virtual. Karena di dunia virtual hanya dengan uang yang tidak terlalu banyak kamu bisa dapatkan setengah dari segalanya.



Hmm....
Sungguh aku akui dunia virtual itu indah. Dunia yang diciptakan dari impian kita. Tidak mengalami kesulihatan yang luar biasa seperti di real. Indah, senang banget.

Namun lagi dan lagi aku harus terbangun dan menyadari. Bahwa itu hanya sebuah dunia kedua dimana pada akhirnya akan menghilang dengan mudah. Sebuah nama kejayaan tak lagi di kenang bahkan di buang begitu saja. Kehidupan real itu lebih penting dari segalanya. Kejayaan yang kita peroleh di dunia virtual tidak akan memberikan kita apa-apa di kehidupan real kita. Kecuali semua koin di game bisa di realkan.


Membuat dan memupuk kekeluargaan di virtual itu sangat mudah namun pernahkah terbenak di fikiran kita akan mudah kah membentuk kekeluargaan di real?

Bagaimana pun indahnya dunia virtual tetap saja dunia real lebih penting dari segalanya. 

Mereka yang menganggap dunia virtual adalah segalanya memiliki kepribadian yang cenderung menyendiri hingga komunikasi jarang dan segan terjadi. Aku berfikir bagaimana dengan psikolog mereka. Bagaimana perasaan mereka kemudahan dunia virtual dan ketika mereka terjun ke real tidak semudah dunia virtual, akan kah mereka menjadi frustasi dan ingin lari ke dunia virtual?