Cinta,,,
Semua orang merasakan semua rasa di dalamnya, kebahagiaan sekaligus kesedihan, semua serasa satu paket. Kasih sayang yang diberikan oleh rasa cinta hal yang sungguh sangat mengagumkan. Kita dapat berubah jadi siapa saja karena cinta. Menjadi seorang malaikat atau menjadi seorang iblis, namun yang pasti hingga kini tidak ada yang mampu mendefinisikan cinta bahkan memprotes tentang cinta itu sendiri.
Sungguh indah bukan jika cinta itu berjalan beriring dan saling menyambut, namun akan lebih terasa lebih sakit ketika hanya salah satu belah pihak yang merasakannya. Tidak bersambut...
Mungkin kesalahan dalam cerita, iya alur cerita yang hadir di tengah cinta dua insan. Namun engkau pasti tahu bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menolak cinta. Seberapa kuat menghindar dari pesonanya dan pada akhirnya akan terjerat. Hmmm... Sebenarnya aku tidak ingin menulis tentang ini, karena bagiku ini terasa memalukan hadir di tengah kebahagian orang lain dan mencari celah untuk tempat keberadaanku, But it is imposible...
Sesuatu yang tidak mungkin aku gapai, sesuatu yang tidak mungkin aku raih, walau rasa ini akan bersambut. Apa pun konsekuensinya pasti akan aku terima walau itu semua pahit.
Keberadaanku memang tidak sekuat dia yang berada di samping dia, karena aku hanya ujian dari ribuan ujian. Aku bukan tipe orang yang merusak kebahagiaan orang lain untuk itu aku pergi meninggalkan kisah ini. Kisah yang pengharapanku terlalu tinggi akan sebuah rasa. Pengorbanan akan sebuah rasa demi membuat kebahagiaan terukir di wajah orang yang kita kagumi.
Penyesalanku bukan karena sebuah rasa yang tak bersama, namun penyesalanku ketika membentuk cita itu diambang pintu iblis. Dia terkagumi berubah ketika aku pergi, engkau tahu betapa sakitnya hati. Namun aku tidak bisa membantu dia, karena ada dia di sampingnya. Aku tidak berhak, bahkan menyapa untuk sekali lagi.
Inikah waktu yang begitu egois, menjatuhkan aku pada rasa yang menguras fikiranku untuk memikirkan yang mungkin saja tidak berlaku bagi seseorang yang tidak memperdulikan rasa.
Seseorang berkata padaku, kini aku telah menjadi sangat lemah akan sebuah rasa. Mungkin itu benar, karena hanya dia yang mampu menepi di muara kasih. Hanya dia yang memiliki kontak bathin yang kuat tanpa ikrar terlebih dahulu.
Wahai dewi rasa
Lepaskan ikatan bathin itu agar aku tidak tersiksa melihat dia dari kejauhan. Agar waktu ku tak terfikir akan dia selalu. Wahai dewi klasikal elok dan rupa hapuslah ingatan yang tidak semestinya.
Kesederhanaanku telah mengubah arti. Dia mengubah kehidupanku dan arti dalam hidupku, waktu demi waktu aku berubah menjadi yang seperti dia mau. Tapi aku tidak pernah ungkapkan itu kepada dia. Aku ingin dia memandangku dengan kesederhanaan tapi ada suatu hal yang sempurna dari kesederhanaan itu yang sama persis yang diinginkan dia.
Waktu,,,,
Iya waktulah yang salah mempertemukan, perubahanku kini tiada artikah? Tidak,,, kisahku ku yakin belum usai untuk bab ini, suatu saat nanti ketika waktu berpihak, ketika dimana dunia telah memberikan takdirnya, aku berharap bertemu dia di kisah yang lebih indah. Namun jika tidak, mungkin ini adalah takdirnya. Kenapa aku memprotes, tidak patut bukan?
Maafkan aku telah hadir di tengah-tengah dia dan dia.
Allah Sang Maha Cinta
Untukmu terindah
Semoga Allah selalu bersama kamu
Maaf

0 Komentar