A. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Problem Posing

Dari suatu pertanyaan, kadang berpikir baru dimulai. Bertanya dan berpikir bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan berkaitan. Bila ada pertanyaan, ada aktifitas berpikir. Sebaliknya, ketika berpikir dimulai otomatis pertayan-pertanyaan akan muncul. Makin banyak kita bertanya,  maka makin banyak pula kita berpikir. Karena kegiatan bertanya dan berpikir itulah, seorang ilmuan bisa menemukan suatu yang baru dalam bidang ilmu yang digelutinya. Selain itu, berawal dari suatu pertanyaan pula, ilmu pengetahuan dan teknologi bisa berkembang dengan pesat.  

Hampir setiap hari kita pasti mengajukan suatu pertanyaan. Baik pertanyaan yang ditujukan pada diri sendiri maupun pada orang lain. Tetapi tidak setiap pertanyaan yang kita ajukan, merupakan suatu pertanyaan yang berbobot. Karena suatu pertanyaan yang berkualitas tidak langsung tiba-tiba muncul. Mengajukan pertanyaan yang baik perlu proses. Untuk mengajukan suatu pertanyaan yang berkualitas perlu banyak latihan. Selain berlatih, banyak bergaul dengan orang yang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas sangat membatu meningkatkan keterampilan bertanya. 

Sayangnya, dalam tradisi pendidikan kita penanaman keterampilan bertanya pada siswa belum mendapatkan perhatian yang serius. Sementara ini, keterampilan bertanya lebih ditekankan kepada guru. Guru dilatih dan dibimbing bagaimana cara bertanya yang baik kepada siswanya. Guru dilatih bertanya, mulai pertanyaan yang sifatnya menjajaki konsep yang telah diajarkan sampai pada  pertanyaan tingkat tinggi. Sedangkan kesempatan siswa bertanya porsinya masih sedikit. Padahal menanamkan keterampilan bertanya sejak dini pada siswa sangatlah penting. Agar mereka terampil bertanya dan berpikir kritis.

Suseno (dalam Suharta, 2000) menjelaskan, belajar bertanya sangat penting dalam proses pendidikan. Karena bertanya merupakan awal dari kegiatan berfilsafat. Bertanya, juga mengandung makna, sebagai awal usaha intelektual. Dengan bertanya, pikiran bisa terangsang untuk maju, membuka cakrawala ilmu pengetahuan, dan mendobrak wawasan yang kaku dan sempit. 

Oleh karena itu, pembelajaran keterampilan bertanya pada siswa perlu mendapat perhatian yang lebih. Khususnya, keterampilan mengajukan pertanyaan (Baca: permasalahan atau soal) dari masalah yang ada. Pembelajaran dengan mengajukan masalah berdasarkan masalah yang tersedia disebut pembelajaran dengan pendekatan problem posing. 

Siswa tidak hanya diminta membuat soal atau mengajukan suatu pertanyaan. Tetapi mereka diminta untuk mencari selesaianya. Selesain dari soal yang mereka buat bisa dikerjakan sendiri. Bisa juga minta tolong pada temannya. Mungkin juga soal tersebut dikerjakan secara kelompok. Dengan cara dikerjakan secara kooperatif akan memudahkan pekerjaan mereka. Sebab yang memikirkan masalah tersebut banyak anak. Selain itu, dengan belajar kelompok suatu soal atau masalah dapat diselesaikan dengan banyak cara dan banyak selesaian. 

Problem posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut.

Dalam pembelajaran fisika, problem posing (pengajuan soal) menempati posisi yang strategis. Siswa harus menguasai materi dan urutan penyelesaian soal secara mendetail. Hal tersebut akan dicapai jika siswa memperkaya khazanah pengetahuannya tak hanya dari guru melainkan perlu belajar secara mandiri. Problem posing dikatakan sebagai inti terpenting dalam disiplin ilmu. Silver dan Cai menulis bahwa ”Problem posing is central important in the discipline of mathematics and in the nature of mathematical thinking”.

Suryanto menjelaskan tentang problem posing adalah perumusan soal agar lebih sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dikuasai. Hal ini terutama terjadi pada soal-soal yang rumit. (Pujiastuti, 2001:3)

Menurut Brown dan Walter dalam Kadir (2006:7), pada tahun 1989 untuk pertama kalinya istilah problem posing diakui secara resmi oleh National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) sebagai bagian dari national program for re-direction of mathematics education (reformasi pendidikan matematika). Selanjutnya istilah ini dipopulerkan dalam berbagai media seperti buku teks, jurnal serta menjadi saran yang konstruktif dan mutakhir dalam pembelajaran matematika. Problem posing berasal dari bahasa Inggris, yang terdiri dari kata problem dan pose. Problem diartikan sebagai soal, masalah atau persoalan, dan pose yang diartikan sebagai mengajukan (Echols dan Shadily, 1990:439 dan 448). Beberapa peneliti menggunakan istilah lain sebagai padanan kata problem posing dalam penelitiannya seperti pembentukan soal, pembuatan soal, dan pengajuan soal (Yansen, 2005:9).

Suryanto (Sutiarso: 2000) mengemukakan bahwa problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, sebagai padanan katanya digunakan istilah “merumuskan masalah (soal)” atau “membuat masalah (soal)”. Sedangkan menurut Silver (Sutiarso: 2000) bahwa dalam pustaka pendidikan, problem posing mempunyai tiga pengertian, yaitu: pertama, problem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit (problem posing sebagai salah satu langkah problem solving).

Kedua, problem posing adalah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain (sama dengan mengkaji kembali langkah problem solving yang telah dilakukan). Ketiga, problem posing adalah merumuskan atau membuat soal dari situasi yang diberikan. Siswa perlu diberi kesempatan merumuskan soal-soal dari hal-hal yang diketahui dan menciptakan soal-soal baru dengan cara memodifikasi kondisi-kondisi dari masalah-masalah yang diketahui tersebut (Silver & Cai, 1996).
Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dirumuskan pengertian problem posing adalah perumusan atau pembuatan masalah/soal sendiri oleh siswa berdasarkan stimulus yang diberikan.

B. Pelaksanaan Model Pembelajaran Problem posing dalam Pembelajaran

Model pembelajaran probelem posing (pengajuan masalah) dapat dilakukan secara individu atau kelompok (classical), berpasangan (in pairs) atau secara berkelompok (groups). Masalah fisika yang diajukan secara individu tidak memuat intervensi atau pemikiran dari siswa yang lain. Masalah tersebut adalah murni sebagai hasil pemikiran yang dilatar belakangi oleh situasi yang diberikan. Masalah matematika yang diajukan oleh siswa yang dbuat secara berpasangan dapat lebih berbobot, jika dilakukan dengan cara kolaborasi, utamanya yang berkaitan dengan tingkat keterselesaian masalah tersebut. Sama halnya dengan masalah fisika yang dirumuskan dalam satu kelompok kecil, akan menjadi lebih berkualitas manakala anggota kelompok dapat berpartsipasi dengan baik (Hamzah, 2003: 10).

Dalam pelaksanaannya dikenal beberapa jenis model problem posing antara lain:
  • Situasi problem posing bebas
Siswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengajukan soal sesuai dengan apa yang dikehendaki . Siswa dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan untuk mengajukan soal.
  • Situasi problem posing semi terstruktur
Siswa diberikan situasi/informasi terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mengajukan soal dengan mengkaitkan informasi itu dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Situasi dapat berupa gambar atau informasi yang dihubungkan dengan konsep tertentu.
  • Situasi problem posing terstruktur
Siswa diberi soal atau selesaian soal tersebut, kemudian berdasarkan hal tersebut siswa diminta untuk mengajukan soal baru.Problem posing adalah kegiatan perumusan soal atau masalah oleh peserta didik. Peserta didik hanya diberikan situasi tertentu sebagai stimulus dalam merumuskan soal/masalah. Berkaitan dengan situasi yang dipergunakan dalam kegiatan perumusan masalah/soal dalam pembelajaran matematika, Walter dan Brown (1993: 302) menyatakan bahwa soal dapat dibangun melalui beberapa bentuk, antara lain gambar, benda manipulatif, permainan, teorema/konsep, alat peraga, soal, dan solusi dari soal. 

Sedangkan English (1998) membedakan dua macam situasi atau konteks, yaitu konteks formal bisa dalam bentuk simbol atau dalam kalimat verbal, dan konteks informal berupa permainan dalam gambar atau kalimat tanpa tujuan khusus. Pembelajaran dengan pendekatan problem posing mungkin bukan suatu hal yang baru dalam dunia pendidikan. Pendekatan ini pada awal tahun 2000 sempat menjadi kata kunci di setiap seminar pembelajaran, khususnya pembelajaran  matematika. Meskipun pendekatan ini lebih dikembangkan dalam pembelajaran matematika, namun belakangan ini pembelajaran fisika dan kimia juga menggunakan pendekatan ini. Dan tidak menutup kemungkinan pendekatan ini juga sudah dikembangkan dalam pembelajaran rumpun IPS dan bahasa. 

Pembelajaran dengan pendekatan problem posing bisanya diawali dengan penyampaian teori atau konsep. 

Penyampaian materi biasanya menggunakan metode ekspositori. Setelah itu, pemberian contoh soal dan pembahasannya. Selanjutnya, pemberian contoh bagaimana membuat masalah dari masalah yang ada dan menjawanya. Kemudian siswa diminta belajar dengan problem posing. Mereka diberi kesempatan belajar induvidu atau berkelompok. Setelah pemberian contoh cara membuat masalah dari situasi yang tersedia, siswa tidak perlu lagi diberikan contoh. Penjelasan kembali contoh, bagaimana cara mengajukan soal dan menjawabnya bisa dilakukan, jika sangat diperlukan.

Penerapan dan penilaian yang cukup sederhana dari pendekatan ini,  yaitu dengan cara siswa diminta mengajukan soal yang sejenis atau setara dari soal yang telah dibahas. Dengan cara ini kita bisa melihat sejauh mana daya serap siswa terhadap materi yang baru saja di sampaikan. Cara yang seperti ini sangat cocok digunakan dalam pembelajaran untuk rumpun mata pelajaran MIPA. Melalui tugas membuat soal yang setara dengan soal yang telah ada, kita bisa mencermati bagaimana siswa mengganti variabel-variabel yang dikatahui lalu mencari variabel yang ditanyakan.
Bagi siswa yang memiliki daya nalar diatas rata, pendekatan seperti ini memberikan peluang untuk melakukan eksplorasi intelektualnya. Mereka akan tertatang untuk membuat tambahan informasi dari informasi yang tersediakan. Sehingga pertanyaan yang diajukan memiliki jawab yang lebih kompleks. Sedangkan bagi anak yang berkemampuan biasa cara ini akan memberikan kemudahan untuk membuat soal dengan tingkat kesukaran sesuai dengan kemampuannya.

Pembelajaran dengan model problem posing dapat juga dimulai dari membaca daftar pertanyaan pada halaman soal latihan yang terdapat dalam buku ajar. Setelah itu baru membaca materinya. Cara ini berkebalikan dengan cara belajar selama ini. Tugas membaca yang diperintahkan pada siswa biasanya bermula dari materi, lalu menjawab soal pada halaman latihan. Kelebihan membaca soal terlebih dahulu baru membaca materi, terletak pada fokus belajar siswa. Ketika siswa membaca pertanyaan terlebih dahulu, maka mereka akan berusaha untuk mencari jawaban dari pernyaan yang telah mereka baca. Tapi lain masalahnya ketika dibalik. Bila membaca materi terlebih dahulu, maka ketika sampai pada bagian soal latihan, ada kemungkinan siswa akan membacanya kembali atau membuka-buka bagian yang telah dibaca untuk menjawab soal yang ada. Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk cara belajar membaca materi terlebih dahulu, lebih banyak dibandingkan dengan cara belajar membaca soalnya setelah itu baru membaca materinya. 

Pada pembelajaran bahasa Indonesia, pembelajaran dengan pendekatan problem posing akan melatih sikap kritis dan cara berfikir divergen. Misalnya, seorang guru cukup membagi-bagikan foto kopian sebuah artikel yang diambil dari majalah atau koran. Berdasarkan artikel tersebut, siswa diminta membuat pertanyaan dan jawabannya.  

Maka akan muncul ratusan pertanyaan dan jawaban hanya berdasarkan sebuah artikel. Mungkin akan lebih dari itu. Sebab aspek kebahasaan yang dimuat dalam sebuah artikel banyak sekali. Sebenarnya banyak cara bagaimana mengaktifkan siswa. Salah satunya melalui pembelajaran dengan pendekatan problem posing. 

Melalui model pembelajaran problem posing ini mereka bisa terangsang untuk mengembangkan pengetahuannya dengan cara yang mudah dan murah.  Pengetahuan siswa dengan pendekatan ini, bisa dikembangkan dari yang sederhana hingga pada pengetahuan yang kompleks. Selain itu, dengan pendekatan tersebut siswa akan belajar sesuai dengan tingkat berfikirnya. Karena antara siswa yang pandai dengan yang kurang pandai tidak diperlakukan sama. Mereka akan belajar dengan problem posing sesuai dengan pengetahuaan mereka yang telah dimiliki sebelumnya. 

Dengan model ini diharapkan siswa lebih bersemangat, kritis dan kreatif. Sehingga, dengan model problem posing siswa diharapkan lebih peka terhadap masalah yang timbul disekitanya dan mampu memberikan penyelesaian yang cerdas.
Sebagai ilustrasi tentang perumusan soal, berikut disajikan contoh pembelajaran objek fisika yang berupa teorema, yang dikutip oleh Sutiarso dalam Brown dan Walter (1990).

Dalam pelaksanaannya, model pembelajaran problem posing didukung oleh beberapa teori belajar antara lain:
  • Teori Belajar Bruner
Bruner menganggap, bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar – benar bermakna (Dahar dalam Trianto, 2007).
  • Teori Belajar Piaget
Menurut Piaget (Slavin dalam Trianto, 2007), perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif aktif berinteraksi dengan lingkungannya.
  • Tinjauan Tentang Metode Belajar Aktif
Belajar memerlukan keterlibatan dan kerja siswa itu sendiri. Penjelasan dan pemeragaan misalnya dengan memakai alatperaga semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng, tetapi yang dapat membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif. 

C. Sintaks atau Langkah-Langkah Pembelajaran Pendekatan Problem Posing

Yuhasriati dalam Zahra (2007: 6) menyatakan bahwa langkah-langkah dalam pembelajaran dengan pendekatan problem posing adalah adanya kegiatan perumusan soal yang dibuat oleh setiap siswa setelah selesai pembahasan suatu materi. Terlebih dahulu guru memberi contoh tentang cara membuat soal dan memberikan beberapa situasi (informasi) yang berkenaan dengan materi pembelajaran yang sudah disajikan. Selanjutnya berdasarkan situasi tersebut siswa diminta untuk membuat soal yang berkaitan dengan situasi tersebut dan diminta untuk menyelesaikan soal mereka sendiri.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Model Pembelajaran Problem Posing
Silver dalam Kadir (2006:8) menyatakan bahwa istilah problem posing umumnya digunakan pada tiga bentuk kegiatan yang bersifat metematis, yaitu:
  1. Sebelum pengajuan solusi, yaitu satu pengembangan masalah awal dari situasi stimulus yang diberikan
  2. Di dalam pengajuan solusi, yaitu merumuskan kembali masalah agar menjadi lebih mudah untuk diselesaikan
  3. Setelah pengajuan solusi, yaitu memodifikasi tujuan atau kondisi dari masalah yang sudah diselesaikan untuk merumuskan masalah baru.
Ketika membuat soal (problem posing) berdasarkan situasi yang tersedia, siswa terlibat secara aktif dalam belajar. Situasi yang diberikan dibuat sedemikian hingga berkaitan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Situasi diproses dalam benak siswa selanjutnya siswa akan membuat soal sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya.

Pengetahuan tentang bagaimana memahami soal, secara tidak langsung, terinternalisasi dalam proses pembuatan soal yang dijalani siswa. Problem posing dapat membantu siswa dalam mengembangkan dan meningkatkan kemampuan matematika siswa. Dalam pembelajaran fisika diperlukan adanya penekanan dalam mengembangkan kamampuan siswa untuk mengajukan soal, sehingga dapat meningkatkan penguasaan fisika siswa.

Pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase dan perilaku.Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola.Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan.


Pada fase pertama hal-hal yang perlu dielaborasi antara lain:
  1. Tujuan utama pembelajaran bukan untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru tetapi untuk menginvestigasi berbagai permasalahan mandiri.
  2. Permasalahan atau pertanyaan yang diinvestigasi tidak memiliki jawaban mutlak “benar” dan sebagian besar permasalahan kompleks memiliki banyak solusi yang kadang-kadang saling bertentangan.
  3. Selama fase investigasi pelajaran, peserta didik didorong untuk melontarkan pertanyaan dan mencari informasi. Guru memberikan bantuan tetapi peserta didik mestinya berusaha bekerja secara mandiri atau dengan teman-temannya
  4. Selama fase analisis dan penjelasan pelajaran, peserta didik didorong untuk mengekspresikan ide-idenya secara bebas dan terbuka.

Pada fase kedua, guru diharuskan untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi di antara peserta didik dan membantu mereka untuk menginvestigasi masalah secara bersama-sama. Pada tahap ini pula guru diharuskan membantu peserta didik merencanakan tugas investigatif dan pelapornya.

Pada fase ketiga, guru membantu peserta didik menentukan metode investigasi.Penentuan tersebut didasarkan pada sifat masalah yang hendak dicari jawabnya atau dicari solusinya.

Pada fase keempat, penyelidikan diikuti dengan pembuatan artefak dan exhibits. Artefak dapat berupa laporan tertulis, termasuk rekaman proses yang memperlihatkan situasi yang bermasalah dan solusi dan diusulkan. Artefak dapat berupa model-model yang mencakup representasi fisik dari situasi masalah atau solusinya.Exhibit adalah pendemonstrasian atas produk hasil investigasi atau artefak tersebut.

Pada fese kelima, tugas guru adalah membantu peserta didik mempunyaiketerampilan berpikir sistemik berdasarkan metode penelitian yang mereka gunakan.
                                                                                (Arends,2008)

D. Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing dalam Pembelajaran Fisika

Kemampuan pemecahan masalah dinilai penting untuk dikuasai siswa karena siswa setiap harinya selalu dihadapkan pada suatu masalah, baik secara luas (dalam kehidupan sehari-hari) maupun dalam arti yang khusus yaitu soal dalam pembelajaran fisika. Oleh karena itu, perlu suatu strategi untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah (soal). Menurut beberapa ahli pendidikan, cara atau strategi untuk meningkatan kemampuan pemecahan masalah (soal) adalah dengan strategi Problem Posing. Problem Posing merujuk pada pembuatan soal oleh siswa berdasarkan kriteria tertentu.

Cakupan materi fisika sangat luas dan beragam. Salah satu materi yang dipelajari dalam fisika adalah materi listrik dinamis. Pokok bahasan listrik dinamis mencakup bahasan tentang listrik yang bergerak, besaran-besaran terkait seperti kuat arus listrik, tegangan listrik, dan hambatan listrik beserta alat ukurnya, hukum Ohm, hukum Kirchhoff, dan jenis-jenis rangkaian hambatan. 

Aplikasi dari materi fisika dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat dengan mudah mengajukan pertanyaan (problem posing) mengenai materi tersebut. Strategi Problem Posing dikembangkan dengan menugaskan kepada siswa untuk mengajukan suatu masalah dan meminta siswa menyelesaikan (Silver, dkk, 1994: 3). Siswa tidak hanya diminta untuk mengajukan soal, tetapi juga diminta untuk mencari penyelesaiannya. Dengan demikian, melalui strategi Problem Posing diharapkan siswa dapat lebih berani menyampaikan pendapat, lebih jeli dalam menghadapi suatu masalah (soal) dan meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah (soal) fisika. Strategi Problem Posing sangat tepat diterapkan pada suatu topik lanjutan dari topik sebelumnya. Hal ini dikarenakan agar siswa telah memiliki pengetahuan dasar tentang topik tersebut sehingga siswa dapat melakukan proses problem posing dengan baik.

Pelaksanaan strategi Problem Posing dapat dimodifikasi. Contoh modifikasi strategi Problem Posing yaitu strategi Problem Posing tipe Free- Problem Posing dan Structured-Problem Posing. Strategi Free-Problem Posing memungkinkan siswa untuk mengajukan soal secara bebas sesuai keinginan siswa baik masalah (soal) matematis maupun masalah konseptual.

Kemampuan siswa dalam memecahkan soal (masalah) dapat terasah dari kreatifitas siswa saat membuat masalah (soal) pada topik tertentu. Sedangkan strategi Structured-Problem Posing, kemampuan siswa dalam memecahkan masalah (soal) dilatih melalui kretifitas siswa dalam memodifikasi masalah yang telah ada. Perbedaan dalam penerapan kedua tipe strategi problem posing tersebut dapat menimbulkan dampak yang berbeda pada kemampuan siswa memecahkan masalah (soal).

Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai berikut.
  1. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga untuk memperjelas konsep sangat disarankan.
  2. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
  3. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara kelompok.
  4. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa.
  5. Guru memberikan tugas rumah secara individual.
Silver dan Cai mnjelaskan bahwa pengajuan soal mandiri dapat diaplikasikan dalam 3 bentuk aktivitas kognitif yakni sebagai berikut.
  • Pre solution posing
Pre solution posing yaitu jika seorang siswa membuat soal dari situasi yang diadakan. Jadi guru diharapkan mampu membuat pertanyaan yang berkaitan dengan pernyataan yang dibuat sebelumnya.
  • Within solution posing
Within solution posing yaitu jika seorang siswa mampu merumuskan ulang pertanyaan soal tersebut menjadi sub-sub pertanyaan baru yang urutan penyelesaiannya seperti yang telah diselesaikan sebelumnya.jadi, diharapkan siswa mampu membuat sub-sub pertanyaaan baru dari sebuah pertanyaan yang ada pada soal yang bersangkutan.
  • Post solution posing
Post solution posing yaitu jika seorang siswa memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal yang baru yang sejenis.

Dalam model pembelajaran pengajuan soal (problem posing) siswa dilatih untuk memperkuat dan memperkaya konsep-konsep dasar fisika. Dengan demikian, kekuatan-kekuatan model pembelajaran problem posing sebagai berikut.
  1. Memberi penguatan terhadap konsep yang diterima atau memperkaya konsep-konsep dasar.
  2. Diharapkan mampu melatih siswa meningkatkan kemampuan dalam belajar.
  3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
  4. Bagi siswa, pembelajaran problem posing merupakan keterampilan mental, siswa menghadapi suatu kondisi dimana diberikan suatu permasalahan dan siswa memecahkan masalah tersebut.
Model pembelajaran problem posing (pengajuan soal) dapat dikembangkan dengan memberikan suatu masalah yang belum terpecahkan dan meminta siswa untuk menyelesaikannya (Silver, Kilpatrick dan shlesinger), pemikiran dalam menghasilkan pertanyaan baru dari masalah matematika yang diberikan dapat menjadi aktivias utama dalam mengajukan permasalahan.

Guru dalam rangka mengembangkan model pembelajaran problem posing (pengajuan soal) yang berkualitas dan terstruktur dalam pembelajaran, dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar berikut : 
  1. Pengajuan soal harus berhubungan dengan apa yang dimunculkan dari aktivitas siswa di dalam kelas.
  2. Pengajuan soal harus berhubungan dengan proses pemecahan masalah siswa
  3. Pengajuan soal dapat dihasilkan dari permasalahan yang ada dalam buku teks, dengan memodifikasikan dan membentuk ulang karakteristik bahasa dan tugas.
Menggunakan model pembelajaran problem posing dalam pembelajaran dibutuhkan keterampilan sebagai berikut :
  1. Menggunakan strategi pengajuan soal untuk menginvestigasi dan memecahkan masalah yang diajukan.
  2. Memecahkan masalah dari situasi matematika dan kehidupan sehari-hari.
  3. Menggunakan sebuah pendekatan yang tepat untuk mengemukakan masalah pada situasi belajar.
  4. Mengenali hubungan antara materi-materi yang berbeda dalam matematika.
  5. Mempersiapkan solusi dan strategi terhadap situasi masalah baru.
  6. Mengajukan masalah yang kompleks sebaik mungkin, begitu juga masalah yang sederhana.
  7. Menggunakan penerapan subjek yang berbeda dalam mengajukan masalah matematika.
  8. Kemampuan untuk menghasilkan pertanyaan untuk mengembangkan strategi mengajukan masalah 
Dari uraian di atas, tampak bahwa keterlibatan siswa untuk turut belajar dengan cara menerapkan model pembelajaran problem posing merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Siswa tidak hanya menerima saja materi dariguru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri. Hasil belajar tidak hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan tetapi juga meningkatkan keterampilan berpikir. 

Kemampuan siswa untuk mengerjakan soal-soal sejenis uraian perlu dilatih, agar penerapan model pembelajaran problem posing dapat optimal. Kemampuan tersebut akan tampak dengan jelas bila siswa mampu mengajukan soal-soal secara mandiri maupun berkelompok. Kemampuan siswa untuk mengerjakan soal tersebut dapat dideteksi lewat kemampuannya untuk menjelaskan penyelesaian soal yang diajukannya di depan kelas. Dengan penerapan model pembelajaran problem posing dapat melatih siswa belajar kreatif, disiplin, dan meningkatkan keterampilan berpikir siswa.

E. Petunjuk Model Pembelajaran Problem Posing yang Berkaitan dengan Guru dan Siswa

  • Petunjuk model pembelajaran problem posing yang berkaitan dengan guru adalah :
  1. Guru hendaknya membiasakan merumuskan soal baru atau memperluas soal dari soal-soal yang ada di buku pegangan
  2. Guru hendaknya menyediakan beberapa situasi yang berupa informasi tertulis, benda manipulatif, gambar, atau lainnya, kemudian guru melatih siswa merumuskan soal dengan situasi yang ada.
  3. Guru dapat menggunakan soal terbuka dalam tes.
  4. Guru memberikan contoh perumusan soal dengan beberapa taraf kesukaran, baik isi maupun bahasanya.
  5. Guru menyelenggarakan reciprocal teaching, yaitu pembelajaran yang berbentuk dialog antara guru dan siswa mengenai isi buku teks, yang dilaksanakan dengan cara menggilir siswa berperan sebagai guru.
  • Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Siswa
  1. Siswa dimotivasi untuk mengungkapkan pertanyaan sebanyak-banyaknya terhadap situasi yang diberikan.
  2. Siswa dibiasakan mengubah soals-soal yang ada menjadi soal yang baru sebelum mereka menyelesaikannya.
  3. Siswa dibiasakan membuat soal-soal serupa setelah menyelesaikan soal tersebut.
  4. Siswa harus diberi kesempatan untuk menyelesaikan soal-soal yang dirumuskan oleh temannya sendiri.
  5. Siswa dimotivasi untuk menyelesaikan soal-soal non rutin. 
F. Kelebihan dan Kelemahan dari Model Pembelajaran Problem Posing

Model pembelajaran problem posing mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan dari metode problem posing dalam antara lain:
  1. Siswa dapat berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.
  2. Mendidik siswa berpikir sistematis.
  3. Mendidik siswa agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan.
  4. Siswa mampu mencari berbagai jalan dari kesulitan yang dihadapi.
  5. Mendatangkan kepuasan tersendiri bagi siswa jika soal yang dibuat tidak mampu diselesaikan oleh kelompok lain.
  6. Siswa akan terampil menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan.
  7. Siswa berkesempatan menunjukkan kemampuannya pada kelompok lain.
  8. Siswa mencari dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori, atau kesimpulan.

Selain mempunyai beberapa kelebihan, metode problem posing juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
  1. Pembelajaran model problem posing membutuhkan waktu yang lama.
  2. Membutuhkan buku penunjang yang berkualitas untuk dijadikan referensi pembelajaran terutama dalam pembuatan soal.
  3. Pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan problem posing suasana kelas cenderung agak gaduh karena siswa diberi kebebasan oleh guru pengajar.
  4. Kelemahan utama dari penerapan problem posing berkaitan dengan penguasaan bahasa dimana siswa mengalami kesulitan dalam membuat kalimat tanya.
Daftar Pustaka:

Arends, Richard I. 2008.Learning to teach. Penerbit Pustaka Pelajar :Yogyakarta.

Dahar,Ratna W. 2011.Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Erlangga.

Rusman . 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : Rajawali Press.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif:Konsep, Landasan dan implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : Penerbit Kencana.