A. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Pewujudan konsep, prinsip dan aspek-aspek kurikulum seluruhnya terletak pada guru. Oleh karena itu, gurulah pemegang kunci pelaksanaan dan keberhasilan kurikulum. Dialah sebenarnya perencana, pelaksana, penilai dan pengembang kurikulum sesungguhnya. Suatu kurikulum diharapkan memberi landasan, isi, dan menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembangan masyarakat.
1. Prinsip-Prinsip Umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
- Prinsip relevansi. Relevansi pendidikan dapat diartikan sebagai kesesuaian atau keserasian pendidikan dengan tuntutan kehidupan. Dengan kata lain, pendidikan dipandang relevan bila hasil yamg diperoleh dari pendidikan tersebut berguna atau fungsional bagi kehidupan. Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum, yaitu relevansi ke luar dan relevansi di dalam kurikulum itu sendiri. Relevansi ke luar maksudnyatujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Kurikulum menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat. Kurikulum juga harus memiliki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau kosistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian.
- Prinsip fleksibilitas, maksudnya tidak kaku, artinya ada semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan didalam bertindak. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Di dalam kurikulum, fleksibilitas disini mencakup flesibilitas murid di dalam memilih program pendidikan dan fleksibilitas bagi guru dalam pengembangan program pengajaran. Fleksibilitas dalam memilih program pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk pengadaan program-program tersebut dapat berbentuk jurusan/program spesialisasi, ataupun program-program pendidikan keterampilan yang dapat dipilih murid atas dasar kemampuan dan minatnya. Fleksibilitas dalam mengembangkan program pengajaran dapat diwujudkan antara lain dalam bentuk memberikan kesempatan pada guru-guru untuk, mengembangkan sendiri program-program pengajaran dengan berpegang pada tujuan dan bahan pengajaran di dalam kurikulum yang masih bersifat agak umum.
- Prinsip kontinuitas yaitu kesinambungan. Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas dan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, juga antara jenjang pendidikan dan pekerjaan.
- Prinsip praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi. Kurikulum dan pendidikan selalau dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum bukan hanya harus ideal tapi juga praktis.
- Prinsipefektivitas, efektivitas dalam suatu kegiatan berkenaan dengan sejauh mana apa yang direncanakan atau dapat diinginkan dapat terlaksana atau tercapai.Bila ada sepuluh jenis kegiatan yang kita rencanakan, dan tercapai hanya 4 kegiatan yang dapat dilaksanakan, maka efektivitas kegiatan kita masih belum memadai. Demikian pula bila ada 10 tujuan yang kita inginkan dan ternyata 5 yang tercapai, maka usaha untuk mencapai tujuan tersebut masih dipandang kurang efektif. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas. Kurikulum pada dasarnya berintikan empat aspek utama yaitu: tujuan-tujuan pendidikan, isi pendidikan, pengalaman belajar, dan penilaian.
2. Prinsip-Prinsip Khusus
Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan. Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus). Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada:
- Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan, dan strategi pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan;
- Survei mengenai persepsi orang tua/masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka;
- Survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa;
- Survei tentang manpower;
- Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama;
- Penelitian.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal.
- Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar;
- Isi bahan pengajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap dan keterampilan;
- Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. Ketiga ranah belajar, yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar. Untuk hal tersebut diperlukan buku pedoman guru yang memberikan penjelasan tentang organisasi bahan dan alat pengajaran secara lebih mendetail.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Apakah metode/teknik belajar-mengajar yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran?
- Apakah metode/teknik tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa?
- Apakah metode/teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat?
- Apakah metode/teknik tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, efektif dan psikomotor?
- Apakah metode/teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa, atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya?
- Apakah metode/teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru?
- Apakah metode/teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sumber yang ada di rumah dan di masyarakat?
- Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan “learning by doing” di samping “learning by seeing and knowing”.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Proses belajar mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat.
- Alat/media pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apa penggantinya?
- Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan: bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatan?
- Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar dan lain-lain?
- Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
- Hasil yang baik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
Penilaian merupakan bagian integral dari pengajaran:
- Dalam penyususnan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah-langkah sebagai berikut:Rumuskan tujuan-tujuan yang umum, dalam ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Uraikan kedalam bentuk tingkah-tingkah laku murid yang dapat diamati. Hubungkan dengan bahan pelajaran. Tuliskan butir-butir tes.
- Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan beberapa hal:Bagaimana kelas, usia dan tingkat kemampuan kelompok yang akan dites?Berapa lama waktu dibutuhkan untuk pelaksanaan tes? Apakah tes tersebut berbentuk uraian atau objektif? Berapa banyak butir tes telah disusun? Apakah tes tersebut diadministrasikan oleh guru atau oleh murid?
- Dalam pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut: Norma apa yang digunakan di dalam pengolahan hasil tes? Apakah digunakan formula quessing? Bagaimana pengubahan skor ke dalam skor masak? Skor standar apa yang digunakan? Untuk apa hasil-hasil tes digunakan.
B. Pengembang Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu: administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus-menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah: administrator, guru, dan orang tua.
1. Peranan Para Adminisatrator Pendidikan
Para administrator pendidikan ini terdiri dari: direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kepala sekolah. Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Kerangka dasar dan program inti tersebut akan menentukan minimum course yang dituntut.
Atas dasar kerangka dasar dan program inti tersebut para administrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator lokal (kabupaten, kecamatan dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi sistem pendidikan pada masing-masing sekolah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya yang secara terus-menerus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada gurur-guru. Walaupun guru dapat mengembangkan kurikulum sendiri, tetapi dalam pelaksanaannya sering harus didorong dan dibantu oleh para administrator. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengembangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figur kunci di sekolah, kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhi suasana sekolah dan pengembangan kurikulum.
2. Peranan Para Ahli
Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran ahli, baik ahli pendidikan ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi/disiplin ilmu. Pengembangan kurikulum bukan hanya sekedar memilih dan menyusun bahan pengajaran dan metode mengajar, tetapi menyangkut penentuan arah dan orientasi pendidikan, pemilihan sistem dan model kurikulum, baik model konsep, model desain, model pembelajaran, model media, model pengelolaan, maupun model evaluasinya, serta berbagai perangkat dan pedoman penjabaran serta pedoman implementasi dari model-model tersebut.
Partisipasi para ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembanagn kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tiap daerah atau lokal, maka partisipasi mereka pada tingkat daerah, lokal bahkan sekolah juga sangat diperlukan, sebab apa yang telah digariskan pada tingkat pusat belum tentu dapat dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum di daerah.
Pengembangan kurikulum juga memerlukan partisipasi para ahli bidang studi/bidang ilmu yang juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat. Mereka juga sangat diharapkan partisipasinya dalam menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.
3. Peranan Guru
Guru memegang peranan yang cukup penting baik di dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana, dan penegmbang kurikulum bagi kelasnya. Sekalipun ia tidak mencetuskan sendiri konsep-konsep tentang kurikulum, guru merupakan penerjemah kurikulum yang datang dari atas.
Peranan guru bukan hanya menilai perilaku dan prestasi belajar murid-murid dalam kelas, tetapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Hasil-hasil penilaian demikian akan sangat membantu pengembangan kurikulum, untuk memahami hambatan-hambatan dalam implementasi kurikulum dan juga dapat membantu mencari cara untuk mengoptimalkan kegiatan guru.
Guru juga bukan hanya berperan sebagai guru di dalam kelas, ia juga seorang komunikator, pendorong kegiatan belajar, pengembang alat-alat belajar, pencoba, penyususn organisasi, manajer sistem pengajaran, pembimbing baik di sekolah maupun di masyarakat dalam hubungannya dengan pelaksanaan pendidikan seumur hidup.
Guru juga berperan sebagai pelajar dalam masyarakatnya, sebab ia harus selalu belajar struktur sosial masyarakat, nilai-nilai utama masyarakat, pola-pola tingkah laku dalam masyarakat. Sebagai pelaksana kurikulum maka guru pulalah yang menciptakan kegiatan belajar mengajar bagi murid-muridnya. Berkat keahlian dan kemampuan seninya dalam mengajar, guru mampu menciptakan situasi belajar yang aktif yang menggairahkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreativitas anak.
4. Peranan Orang Tua Murid
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan dengan dua hal: pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua dapat ikut serta, hanya terbatas kepada beberapa orang saja yang cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerja sama yang sangat erat antara guru atau sekolah dengan para orang tua murid. Sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum yang dilaksanakan di rumah, dan orang tua sewajarnya mengikuti atau mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah.
Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolah, partisipasi dalam kegiatan sekolah orang tua dapat turut serta dalam pengembangan kurikulum terutama dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang sewajarnya, minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh, penyelesaian tugas-tugas serta partisipasi dalam setiap kegiatan di sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.
Isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangankan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.
- Berpusat pada potensi, perkembagan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangankan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
- Beragam dan terpadu. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keberagaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya, dan adat istiadat serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan local, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubatansi.
- Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berkembangan secara dinamis. Oleh karena itu, semangat da nisi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembagan ilmu pengetahuan, tekonologi, dan seni.
- Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengemabangan kurikulum dilakukan dengan melibatan kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampiln sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional meruapakan keniscayaan.
- Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang drencanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
- Belajar sepanjang hayat. Kurikulum yang diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah perkembangn manusia seutuhnya.
- Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan meperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingn nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
C. MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
1. The Administrative Model
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model Administratif atau line staff karena inisiatif dan gagasan perkembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya membentuk suatu tim atau komisi pengarah pengembang kurikulum. Tugas tim atau komisi ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan, dan strategi utama pengembangankurikulum.
2. The Grass Roots Model
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru –guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan atau kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru disuatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum.
3. Beauchamp’s System
Model pengembangan kurikulum ini, dikembangkan oleh Beauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan lima hal di dalam pengembangan suatu kurikulum.
Pertama, menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi ataupun seluruh Negara. Pentahapan arena ini ditentukan oleh wewenang yang dimiliki oleh pengambilan kebijaksanaan dalam pengembangan kurikulum, serta oleh tujuan pengembangan kurikulum.
Kedua, menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpatisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
- Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan para ahli bidang ilmu dari luar.
- Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih.
- Para professional dalam sistem pendidikan.
- Professional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
Ketiga, organisasi dan produser pengembangan kurikulum. Beauchamp membagi keseluruhan kegiatan ini dalam lima langkah, yaitu :
- Membentuk tim pengembang kurikulum.
- Mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang ada yang sedang digunakan.
- Studi tentang kemumgkinan penyusunan kurikulum baru.
- Merumuskan kriteria-kriteia bagi penentuan kurikulum baru.
- Penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
Keempat, implementasi kurikulum. Langkah ini merupakan langkah mengimplementasikan atau melaksanakan kurikulum yang bukan sesuatu yang sederhana, sebab membutukan kesiapan yang menyeluruh, baik kesiapan guru-guru, siswa, fasilitas maupun biaya.
Kelima, evaluasi kurikulum, langkah ini minimal mencakup empat hal, yaitu :
- Evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru.
- Evaluasi desain kurikulum.
- Evaluasi hasil belajar siswa.
- Evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.
4. The Demonstration Model
Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots, datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum. Karena sifatnya inigin mengubah atau mengganti kurikulum yang ada, pengembangan kurikulum sering mendapat tantangan dari pihak-pihak tertentu.
Menurut Smith, Stanley, dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini. Pertama, sekelompok guru dari sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum. Proyek ini bertujuan mengadakan penelitian dn pengembangan tentang salah satu atau beberapa segi/komponen kurikulum. Hasil penelitian dan pengembangan ini diharapkan dapat digunakan bagi lingkungan yang lebih luas. Kedua, kurang bersifat formal. Beberapa orang guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri.
Ada beberapa kebaikan dari pengembangan kurikulum dengan model demontrasi ini. Pertama, karena kurikulum ini disusun dan dilaksanakan dalam situasi tertentu dari kurikulum yang lebih praktis. Kedua, perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk ditolak oleh administrator, dibandingkan dengan penyempurnaan dan perubahan yang menyeluruh. Ketiga, pengembangan kurikulum dalam skala kecil dengan model demonstrasi dapat menembus hambatan yang sering dialami yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksanaanny tidak ada. Keempat, model ini sifatnya yang grass roots menempatkan guru sebagai pengambilan inisiatif dan nara sumber yang dapat menjadi pendorong bagi para administrator untuk mengembangkan program baru. Kelemahan model ini adalah bagi guru-guru yang tidak turut berpatisipasi mereka akan menerimanya dengan enggan-enggan, dalam keadaan terburuk mungkin akan terjadi apatisme.
5. Taba’s Inverted Model
Menurut cara yang bersifat tradisonal pengembangan kurikulum dilakukan secara deduktif, dengan rumus :
- Penentuan prinsip-prinsip dan kebajaksanaan dasar.
- Merumuskan desain kurikulum yang bersifat menyeluruh didasarkan atas komitmen-komitmen tertentu.
- Menyusun unit-unit kurikulum sejalan dengan desain yang menyeluruh.
- Melaksanakan kurikulum di dalam kelas.
Taba berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi. Menurutnya pengembangan kurikulum yang lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru adalah yang bersifat induktif, yang merupakan inversi atau arah terbalik dari model konvensional.
Ada lima langkah pengembangan kurikulum model Taba ini, yaitu :
- Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru.
- Menguji unit eksperimen.
- Mengadakan revisi dan konsolidasi.
- Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum.
- Implementasi dan diseminasi.
6. Roger’s Interpersonal Relations Model
Menurut Roger’s manusia berada dalam proses perubahan. Ada empat langkah pengembangan kurikulum model Roger’s, antara lain :
- Pemilihan target dari system pendidikan.
- Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif.
- Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran.
- Partisipasi orrang tua dalam kelompok.
7. The Systematic Action-Research Model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa, guru, struktur system sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Kurikulum dikembangkan dalam konteks harapan warga masyarakat, para orang tua, tokoh masyarakat, pengusaha, siswa, guru, dan lain-lain.
8. Emerging Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai effisien efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya :
- The Behavioral Analysis Model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan.
- The System Analysis Model, berasal dari gerakan efisiensi bisnis.
- The Computer Model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan Komputer.
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
1. Perguruan Tinggi
Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari Perguruan Tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di Perguruan Tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikandan keguruan serta penyiapan guru-guru di Perguruan Tinggi Keguruan (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan).
2. Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Sebagai bagian dan agen dari masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat di mana sekolah tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.
3.Sistem Nilai
Dalam kegiatan masyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan, sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan penerusan nilai-nilai. Sistem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasilan dalam kurikulum. Masalah utama yang dihadapi para pengembang kurikulum menghadapi nilai ini adalah, bahwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya satu.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai:
- Guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat,
- Guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis, dan moral,
- Guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru,
- Guru menghargai nilai-nilai kelompok lain,
- Memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendir.Hambatan
E. Hambatan Pengembangan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan. Hambatan pertama terletak pada guru. Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama kurang waktu. Kedua kekurang sesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Ketiga karena kemampuan dan pengetahuan guru sendiri.
Hambatan lain datang dari masyarakat. Untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan. Masyarakat adalah sumber input dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepatan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan, serta input fakta dan pemikiran dari masyarakat.
Hambatan lain yang dihadapi oleh pengembang kurikulum adalah masalah biaya. Untuk pengembangan kurikulum, apalagi yang berbentuk kegiatan eksperimen baik metode, isi atau sistem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang sering tidak sedikit.
F. Dua Jenis Pengembangan Kurikulum
1. Pola Tradisional (Traditional Pattern)
Peranan kunci dalam tipe ini diemban oleh inspektur, penasihat dan konsultan yang mendorong menyebarkan inovasi dan mengambil bagian yang penting dalam “inservice education” pada guru.
2. Pola Heuristik
Perbedaannya dengan pola tradisional ialah adanya proses yang lebih teratur dan terorganisir dan khususnya inovasi terencana dilaksanakan melalui “pilot studies”, “field testing” dan evaluasi. Proses umpan balik tidak lagi datang dari inspeksi nasional atau penasehat lokal seperti pada pola tradisional.
Dari uraian tentang 2 jenis pengembangan kurikulum, kita dapat mengontrodusir tiga kriteria yang menentukan bagi pengembangan kurikulum yaitu:
- Ia harus dilembagakan paling kurang sampai tingkat tertentu.
- Ia haruslah merupakan proses perubahan yang bertujuan membawa peningkatan dan harus mencakup unsur umpan balik dan evaluasi.
- Ia harus dapat dideskripsi dalam hubungannya dengan praktek nyata di sekolah dan ruang kelas.
G. Langkah-langkah Pengembangan Kurikulum
Dalam membahas langkah-langkah pengembangan kurikulum kita harus membuat distinksi antara langkah-langkah pengembangan kurikulum makroskopis. Langkah-langkah pengembangan kurikulum makroskopis adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh faktor-faktor yang mendorong pembaharuan kurikulum.
- Tujuan (“objectives”) tertentu, yang permulaannya didorong oleh pengaruh faktor sejarah, sosiologi, filsafah, psikologis dan ilmu pengetahuan.
- Hasil-hasil penemuan riset dalam interaksi belajar mengajar.
- Tekanan-tekanan baik yang berasal dari kelompok penekanan maupun dari pengujian-pengujian eksternal.
2. Inisiasi pengembangan
Proses pengambilan keputusan baik di dalam maupun di luar sistem pendidikan mengenai satu pengembangan atau inovasi kurikulum tertentu hendak dilaksanakan.
3. Inovasi kurikulum baru
Kurikulum baru dikembangkan melalui proyek-proyek pengembangan kurikulum yang harus mengikuti fase-fase:
- Penentuan tujuan-tujuan kurikulum.
- Produksi “materials” (seperti buku, alat visual, perangkat) dan menciptakan metode-metode ajar belajar yang sesuai.
- Pelaksanaan percobaan-percobaan terbatas pada sekolah-sekolah.
- Evaluasi dan revisi “materials” dan metode.
- Penyebaran yang tak terbatas “materials” dan metode yang sudah direvisi.
4. Difusi (penyebaran) pengetahuan dan pengertian tentang pengembangan kurikulum di luar lembaga-lembaga pengembangan kurikulum
Hasil-hasil percobaan kurikulum disebarluaskan di sekolah-sekolah dan masyarakat umum melalui penanaman pengertian, sehingga mereka akan responsif terhadap pembaharuan yang hendak dilaksanakan.
5. Implementasi kurikulum yang telah dikembangkan di sekolah-sekolah
Setelah sekolah-sekolah dan masyarakat umum responsif, kurikulum baru segera diterapkan di sekolah-sekolah. Tentu saja pertama-pertama guru-guru harus dipersiapkan entah melalui program pendidikan guru, penataran guru, pembinaan pada “centre” guru dan sebagainya.
6. Evaluasi kurikulum
Para pengembang kurikulum mengadakan penilaian terhadap kurikulum yang telah dilaksanakan, dengan mendapatkan umpan balik dari para guru, murid, administrator sekolah, orang tua siswa, dan sebagainya. Hasil evaluasi dimanfaatkan untuk mengadakan revisi yang perlu, atau perubahan total kurikulum menjadi suatu kurikulum yang baru lagi.
Daftar Pustaka:
Sukmadinata, Nana S.1997. Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Soetopo, Hendyat. 1986. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta:Bina Aksara.
Kunandar. 2007. Guru Profesional:Implementasi KTSP. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
0 Komentar