A. MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION 

Group Investigation merupakan  salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.

Model Group investigation seringkali disebut sebagai metode pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Hal ini disebabkan oleh metode ini memadukan beberapa landasan pemikiran, yaitu berdasarkan pandangan konstruktivistik, democratic teaching, dan kelompok belajar kooperatif.

Berdasarkan pandangan konstruktivistik, proses pembelajaran dengan model  group investigation memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan sampai cara mempelajari suatu topik melalui investigasi. Democratic teaching adalah proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keberagaman peserta didik.

Dalam metode Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau enquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group. 

1. Inquiry

Inquiry artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal , akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Komponen menemukan merupakan kegiatan inti dari Model pembelajaran GI. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa . Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang dimilki oleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya. Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut.
Knowledge

Pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Davenport and Prusak (1998) mendefinisikan pengetahuan secara luas dengan pengetahuan merupakan campuran dari pengalaman, nilai, informal kontekstual, dan pandangan pakar yang memberikan kerangka untuk mengevaluasi dan menyatukan pengalaman baru dan informasi. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
The dynamics of the learning group

Dalam model pembelajaran GI, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dari bakat ataupun minatnya. Dalam pembelajaran kelompok diharapkan setiap anggota dalam kelompok saling memberi; yang cepat belajar didorong untuk membantu yang lemah, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain. dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi.
(Istarani. 2012: 86-89)

B. TUJUAN MODEL PEMBELAJARAN GRUP INVESTIGASI

Metode Grup Investigation paling sedikit memiliki tiga tujuan yang saling terkait:
  1. Group Investigasi membantu siswa untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik secara sistematis dan analitik. Hal ini mempunyai implikasi yang positif terhadap pengembangan keterampilan penemuan dan membentuk mencapai tujuan. 
  2. Pemahaman secara mendalam terhadap suatu topik yang dilakukan melalui investigasi.
  3. Group Investigasi melatih siswa untuk bekaerja secara kooperatif dalam memecahkan suatu masalah. Dengan adanya kegiatan tersebut, siswa dibekali keterampilan hidup (life skill) yang berharga dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi guru menerapkan model pembelajaran GI dapat mencapai tiga hal, yaitu dapat belajar dengan penemuan, belajar isi dan belajar untuk bekerjas secara kooperatif. (Aunurrahman. 2009: 56-57)
C. KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION

Menurut Sharan (2009:147) empat fitur utama dalam investigasi kelompok adalah investigasi, interaksi, penafsiran, dan motivasi intrinsik.

1. Investigasi

Investigasi dimulai ketika guru memberikan masalah yang menantang dan rumit kepada siswa. Pada proses ini siswa mencari sumber, informasi, gagasan penda-pat dengan bekerja sama dengan rekan mereka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. 

2. Interaksi

Menurut Sharan (2009:147) interaksi di antara siswa penting bagi investigasi kelompok. Karena pada saat siswa berinteraksi dengan kelompoknya dengan percakapan, kontak, saling membantu, dan saling mendukung diantara siswa merupakan bagian dari proses dari investigasi kelompok. Ini berarti siswa secara berkelompok mendiskusikan tugasnya, mempelajari dari berbagai sumber, bertukar gagasan dan informasi, serta meringkas dan menyatukan temuan me-reka, lalu mereka berusaha menyajikan hasil pekerjaan mereka di depan kelas.

3. Penafsiran

Siswa bersama teman sekelompoknya membuat penafsiran atas hasil penelitian mereka yang diperoleh dari sumber dan informasi yang mereka dapatkan. Penafsiran atas temuan-temuan mereka lalu digabungkan, pada saat penggabungan ini akan mendapat pengetahuan baru karena gagasan dan informasi yang diperoleh anggota kelompok yang lain akan disampaikan pada saat menghubungkan gaga-san-gagasan yang mereka peroleh untuk menarik simpulan. 

4. Motivasi Intrinsik

Investigasi kelompok memotivasi siswa untuk berperan aktif dan menentukan apa yang mereka pelajari dan bagaimana cara mereka belajar. Hal ini melihat mereka untuk membuat pilihan serta keputusan terhadap masalah yang mereka amati. 

Ada empat karakteristik pada model ini, yaitu :
  1. Kelas dibagi menjadi ke dalam sejumlah kelompok (grup) 
  2. Kelompok siswa dihadapkan pada topik dengan berbagai aspek untuk meningkatkan daya kuriositas (keingintahuan) dan saling ketergantungan yang positif di antara mereka.
  3. Di dalam kelompoknya siswa terlibat dalam komunikasi aktif untuk meningkatkan keterampilan cara belajar.
  4. Guru bertindak selaku sumber belajar dan pimpinan tidak langsung, memberikan arah dan klarifikasi hanya jika diperlukan, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. (Trianto. 2007 : 113-117)
D. PERAN GURU DALAM  MODEL PEMBELAJARAN GI ( GROUP INVESTIGATION )

Setiawan (2006:12) mendeskripsikan peranan guru dalam pembelajaran GI sebagai berikut:
  1. Memberikan informasi dan instruksi yang jelas
  2. Memberikan bimbingan seperlunya dengan menggali pengetahuan siswa yang menunjang pada pemecahan masalah (bukan menunjukan cara penyelesaianya)
  3. Memberikan dorongan sehingga siswa lebih termotivasi
  4. Menyiapkan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh siswa
  5. Memimpin diskusi pada pengambilan kesimpulan akhir
Dalam Investigasi Kelompok, guru berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator. Guru berkeliling di antara kelompok-kelompok untuk melihat apakah kelompok-kelompok itu melakukan pekerjaannya dan menvcari jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapi dalam interaksi kelompok serta tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran.

Guru harus meberikan contoh (memodelkan) berbagai keterampilan sosial dan komunikasi yang diharapkan dari siswa. Dalam diskusi-diskusi semacam ini guru memodelkan berbagai macam keterampilan : mendengarkan, menguraikan dengan kata-kata sendiri (memparafrasekan), memberikan reaksi tanpa menghakimi, mendorong partisipasi, dan sebagainya.

Pada investigasi, siswa bekerja secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja kelompoknya. Kadang mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat menggali pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan.

Secara umum guru menetapkan topik yang luas, kemudian dipecah-pecah oleh siswa menjadi beberapa subtopik. subtopik-subtopik ini merupakan hasil pertumbuhan dari berbagai latar belakang dan minat siswa, sekaligus sebagai pertukaran berbagai gagasan di antara para siswa. sebagai bagian dari investigasi, para siswa mencari dan menemukan informasi dari berbagai macam sumber di dalam dan di luar kelas. sumber–sumber semacam ini memberikan banyak sekali gagasan, opini, data, solusi, atau posisi tentang persoalan yang sedang dikaji. kemudian para siswa mengevaluasi dan mensintesiskan semua informasi yang disampaikan oleh masing-masing anggota kelompok dan akhirnya dapat menghasilkan produk berupa laporan kelompok.  (Siti Maesaroh. 2011: 66-67)

E. TAHAP-TAHAP GROUP INVESTIGATION
  1. Tahap Pengelompokkan (Grouping)/ Pemilihan topik
  2. Tahap Perencanaan kooperatif (Planning)
  3. Tahap Penyelidikan (Investigation)/ Implementasi
  4. Tahap Pengorganisasian (Organizing)/ Analisis dan sintesis
  5. Tahap Presentasi hasil final (Presenting)
  6. Tahap Evaluasi (Evaluating)
Sharan dkk (1984) telah menetapkan enam tahap Group Investigation        seperti berikut ini : 

1. Tahap Pengelompokkan (Grouping)/ Pemilihan topik

Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta membentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini:
  1. Siswa mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan kategori-kategori topik permasalahan
  2. Siswa bergabung pada kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki
  3. Guru membatasi jumlah anggota masing-masing kelompok antara 4 sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan.
Misalnya :
Dalam sub pokok bahasan jarak dan perpindahan, sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat, guru menyampikan topik yang akan diinvestigasi seperti: 
  1. Pengertian jarak
  2. Pengertian perpindahan
  3. Contoh jarak dan perpindahan
  4. Setelah penyampaian topik bahasan yang akan diinvestigasi: (a) guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih topik yang menarik untuk dipilih dan membentuk kelompok berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, (b) Guru membatasi anggota kelompok 4 sampai 5 orang dengan cara mengarahkan siswa dan memberikan suatu motivasi kepada siswa supaya bersedia membentuk kelompok baru dan memilih topik.
2. Tahap Perencanaan kooperatif (Planning)

Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas, dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama. Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan tentang:
  1. Apa yang mereka pelajari?
  2. Bagaimana mereka belajar?
  3. Siapa dan melakukan apa?
  4. Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut?
Misalnya  pada topik wujud zat pada tahap ini:
  1. Siswa belajar tentang jenis-jenis zat
  2. Siswa belajar dengan menggali informasi, bekerjasama dan berdiskusi,
  3. Siswa membagi tugas untuk memecahkan masalah topik tersebut, mengumpulkan informasi, menyimpulkan hasil investigasi dan mempresentasikan di kelas
3. Tahap Penyelidikan (Investigation)/ Implementasi

Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik di dalam atau di luar sekolah. Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila  diperlukan. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut:
  1. Siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki
  2. Masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok
  3. Siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mempersatukan ide dan pendapat.
4. Tahap Pengorganisasian (Organizing)/ Analisis dan sintesis

Siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas. Pada tahap ini  kegiatan siswa sebagai berikut:
  1. Anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam proyeknya masing-masing
  2. Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya
  3. Wakil dari masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi investigasi.
Misalnya:
  1. Siswa menemukan hubungan antara jarak dan perpindahan
  2. Siswa menemukan bahwa jarak termasuk besaran skalar
  3. Siswa membagi tugas  sebagai pemimpin, moderator, notulis dalam presentasi investigasi.
5. Tahap Presentasi hasil final (Presenting)

Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikannya dengan cara yang menarik kepada seluruh kelas, dengan tujuan siswa yang lain saling terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu. Presentasi dikoordinasi oleh guru. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut:
  1. Penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian
  2. Kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai pendengar
  3. Pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan.
Misalnya:
  1. Siswa yang bertugas untuk mewakili kelompok menyajikan hasil atau simpulan dari investigasi yang telah dilaksanakan,
  2. Siswa yang tidak sebagai penyaji, mengajukan pertanyaan, saran tentang topik yang disajikan,
  3. Siswa mencatat topik yang disajikan oleh penyaji.
6. Tahap Evaluasi (Evaluating)

Dalam hal kelompok-kelompok menangani aspek yang berbeda dari topikyang sama, siswa dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual ata kelompok. Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut:
  1. Siswa menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalaman-pengalaman efektifnya
  2. Guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan 
  3. Penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.
Misalnya:
  1. Siswa merangkum dan mencatat setiap topik yang disajikan.
  2. Siswa menggabungkan tiap topik yang diinvestigasi dalam kelompoknya dan kelompok yang lain,
  3. Guru mengevaluasi dengan memberikan tes uraian pada akhir siklus.
Tahapan-tahapan kemajuan siswa di dalam pembelajaran yang menggunakan metode Group Investigation untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut, (Slavin, 1995) 

Enam Tahapan Kemajuan Siswa di dalam Pembelajaran Kooperatif denganMetode Group Investigation.




F. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MODEL GROUP INVESTIGATION

Kelebihan pembelajaran model group investigation:
  1. Pembelajaran dengan kooperatif model Group Investigation memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
  2. Penerapan metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
  3. Pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang.
  4. Model pembelajaran group investigation melatih siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi dan mengemukakan pendapatnya.
  5. Memotivasi dan mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
Kelemahan pembelajaran dengan model group investigation:
Model pembelajaran group investigation merupakan model pembelajaran yang kompleks dan sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Kemudian pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran group investigation juga membutuhkan waktu yang lama.
(Kiranawati. 2011.Blog)

G. PENERAPAN TIPE GI PADA BERBAGAI MATERI FISIKA 

Pembelajaran IPA di sekolah selalu mengacu pada kurikulum IPA. Di dalam kurikulum telah ditegaskan bahwa pembelajaran IPA harus menekankan pada penguasaan kompetensi melalui serangkaian proses ilmiah. Serangkaian proses ilmiah tersebut diharapkan dapat mengembangkan pengalaman untuk dapat merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, merancang dan merakit instrumen percobaan, mengumpulkan, mengolah dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis.

Dari uraian di atas tergambar bahwa serangkaian proses ilmiah yang dimaksud adalah keterampilan proses sains. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran fisika di Tingkat SMP dan SMA  menjadi sangat penting untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung melalui pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

Dengan pengalaman belajar secara langsung melalui pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah, proses pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher centered) diharapkan berubah menjadi proses pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). 

Namun fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered). Sehingga tujuan pembelajaran fisika berdasarkan KTSP yang kegiatan pembelajarannya berpusat pada siswa (student centered) belum tercapai.

Melihat fakta tersebut, maka perlu adanya sebuah upaya untuk meningkatkan prestasi belajar dan pengembangan keterampilan proses sains dengan memilih model pembelajaran yang tepat yaitu model pembelajaran yang mendukung peningkatan prestasi belajar siswa dan memiliki tahapan-tahapan pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan proses sains pada siswa. Salah satu model pembelajaran yang memiliki tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe group investigation.

Hal ini terlihat pada tahapan-tahapan pada model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dengan aspek-aspek keterampilan proses sains terdapat hubungan antara keduanya, sehingga diharapkan keterampilan proses sains dapat
digali dan dilatih dengan menerapkan model pembelajaran ini.

Model pembelajaran Kooperatif Learning Tipe GI ini sangat cocok digunakan pada semua Materi Fisika. Hanya saja sebaiknya digunakan secara perlahan-lahan. Kenalkan dulu pada siswa untuk mengerti cara jalannya tipe ini. Sehingga siswa tidak bingung dalam penerapan tipe ini.  

Dengan demikian, jelas terlihat dengan menggunakan keterampilan proses sains,siswa terbiasa menggunakan kemampuannya pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga prestasi belajar siswa juga dapat ditingkatkan. (pdf-Adobe Reader. UPI : 1-2)


Daftar Pustaka:

Istarani. 2012. 58 model pembelajaran inovatif. Cetakan ketiga. Medan : Media Persada.

Siti Maesaroh. 2011. Efektivitas Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Group Investigation Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa(slide). Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Slavin, Robert E.  2009. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media.

Trianto. 2007. Model- model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka

Kiranawati. 2011. Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation). http: //gurupkn.wordpress.com/ 2011/10/11/ metode-investigasi-kelompok-group-investigation/. (Diakses tgl 5 maret 2015).

Mcklar. 2011. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Diklat. http://one.indoskripsi.com/ judul-skripsi/ skripsi-lainnya/ penerapan-pembelajaran-kooperatif-model-group- investigation- untuk- meningkatkan- motivasi- dan- has. (Diakses tgl 5 maret 2015).

S_fis_056893_chapter 1.pdf-Adobe Reader. UPI (Universitas Pendidikan