Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar dengan pendekatan ini menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.
Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.
Berdasarkan pengertian dan uraian dari ketiga jenis pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, penulis memilih Pendekatan Inkuiri Bebas dimodifikasi yang akan digunakan dalam makalah ini.
A. Ciri dari pembelajaran inquiry bebas dimodifikasi
Beberapa ciri dari model pembelajaran inquiri dapat dilihat dalam rincian berikut:
- Siswa berpandangan bahwa dirinya sebagai pembelajar . Mereka menampakkan sikap semangat, berupaya untuk bekerja sama baik dengan guru maupun dengan teman, lebih percaya diri dalam belajar, menampakkan kehendak untuk memperbaharui ide dan berani mengambil risiko dan selalu skeptis.
- Siswa selalu menerima inovasi dalam belajar dan memiliki keinginan untuk selalu terlibat dalam proses esplorasi. Siswa selalu bergerak, menggunakan bahan dan materi yang tersedia, selalu berdialog dengan orang lain, serta selalu mencoba ide berbeda.
- Siswa mengajukan pertanyaan, mengusulkan penjelasan dan menggunakan teknik pengamatan kritis untuk mengumpulkan fakta, menyambungkan ide satu dengan lainnya.
- Siswa merancang rencana dan melaksanakan kegiatan belajar. Mereka merancang prosedur untuk menguji ide dengan cara menggunakan bahan-bahan, mengobservasi, mengumpulkan data, mengolah data, memutuskan mana yang penting dan mana yang tidak, melihat persamaan dan perbedaan dan menyusun kesimpulan.
- Siswa berkomunikasi menggunakan berbagai metode. Mereka menyatakan ide malalui berbagai cara termasuk jurnal, gambar, laporan, gerafik dan lainnya. Mereka mendengarkan, berbicara dan menuliskan ppeoses dan hasil belajar dengan orang tua, guru, taman dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari.
- Siswa mengkritisi cara belajar dengan cara mengenali dan mendiskusikan kekuatan dan kekurangn serta melakukan refleksi bersama guru dan teman.
B. Tujuan dari model pembelajaran inquiry bebas dimodifikasi
Tujuan umum dari latihan model pembelajaran inkuiri adalah menolong siswa mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan yang dibutuhkan dengan memberikan pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.
C. Prinsip dan karakteristik dari model pembelajaran inquiry bebas dimodifikasi
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam penggunaan inquiri menurut Sanjaya (2009).
1. Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inquiri adalah pengembangan kemampuan berfikir. Dengan demikian , strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunkan strategi inquiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan.
2. Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
3. Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan model inquiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berfikir.
4. Prinsip Belajar untuk Berfikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir (learning how to think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
5. Prinsip Keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
D. Langkah dalam pembelajaran inquiry bebas dimodifikasi
Sanjaya (2008:202) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan
Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
5.Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
Alasan rasional penggunaan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai matematika dan akan lebih tertarik terhadap matematika jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” penyelidikan. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep matematika dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Sehingga diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berpikir ilmiah tersebut.
Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap pelajaran matematika, khususnya kemampuan pemahaman dan komunikasi matematis siswa. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar, peranan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.
Dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas, guru mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan dan teman yang kritis. Guru harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap problem solving atau tugas; (2) Tahap pengelolaan kelompok; (3) Tahap pemahaman secara individual, dan pada saat yang sama guru sebagai instruktur harus dapat memberikan kemudahan bagi kerja kelompok, melakukan intervensi dalam kelompok dan mengelola kegiatan pengajaran.
E. Kelemahan dan kelebihan dari pembelajaran inquiry bebas dimodifikasi
- Keungulan model pembelajaran inkuiri
- Produktif dalam berfikir kreatif
- Siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi
- Menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik
- Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai gaya belajar.
- Mampu melayani siswa diatas rata-rata
- Kekurangan model pembelajaran inkuiri
- Guru dituntut untuk kreatif
- Belajar mengajar dengan inkuiri memerlukan kecerdasan anak yang tinggi.
- Inkuiri tidak cocok untuk diterapkan pada anak yang usianya terlalu muda, misalnya SD.
- Untuk mengimplementasikannya perlu waktu relative lama.
- Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
- Sulit merencanakan pembelajaran karena benturan kebiasaan.
- Keberhasilan belajar ditentukan dalam menguasai materi sehingga tidak semua guru mampu mengimplementasikannya.
F. Sintaks dalam pembelajaran inquiry bebas dimodifikasi
G. Alasan Model Inkuiri Bebas Dimodifikasi Bisa Digunakan Dalam Pembelajaran Fisika
Alasan model inkuiri bebas dimodifikasi bisa digunakan dalam pembelajaran fisika adalah :
- Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat
Seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat , guru dituntut untuk kreatif dalam menyajikan pembelajaran agar anak didik dapat menguasai pengetahuan sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.
- Belajar tidak hanya diperoleh dari sekolah, tetapi juga dari lingkungan
Kita harus menanamkan pemahaman anak didik bahwa belajar tidak hanya diperoleh dari sekolah tetapi juga dari lingkungan sedini mungkin. Metode Inkuipi dapat membantu guru dalam menanamkan pemahaman tersebut. Metode ini mengajak siswa untuk belajar mandiri dengan maupun tanpa bimbingan dari guru.Siswa mwngembangkan kemampuan yang diperoleh dari lingkungannya untuk menemukan suatu konsep dalam pembelajaran.
Melatih peserta didik untuk memiliki kesadaran sendiri tentang kebutuhan belajarnya Metode ini menekankan pada keaktifan siswa mnemukan suatu konsep pembelajaran dengan kemampuan yang dimilikinya. Dengan langkah pembelajaran tersebut aka siswa akan dapat memiliki kesadaran tentang kebutuhan belajarnya.
- Penanaman kebiasaan belajar berlangsung seumur hidup
Penanaman kebiasaan untuk belajar berlangsung seumur hidup dapat dilaksaakan dengan metode inkuiri. Dalam metode ini siswa diarahkan untuk selalu mengembangkan pola pikirnya dalam mengembangkan konsep pembelajaran. Siswa dituntut untuk selalu mencari pengetahuan yang menunjang pemahaman siswa terhadap konsep pembelajaran. Hal inilah yang menjadi langkah awal guru dalam penanaman terhadap siswa tentang pengertian bahwa belajar berlangsung seumur hidup dan Menemukan sendiri tentang konsep yang dipelajari siswa akan lebih memahami ilmu dan ilmu tersebut akan bertahan lama.
- Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran.
- Mengembangakan pola piker siswa agar kreatif.
H. Model Pembelajaran Inkuiri bebas dimodifikasi dalam konsep Fisika
Fisika adalah salah satu mata pelajaran yang sering dianggap susah dan kurang menarik bagi siswa. Hal ini disebabkan karena struktur dan isi mata pelajaran fisika itu sendiri yang memang membutuhkan pengetahuan awal untuk dapat dipahami sehingga terkesan susah dan banyak konsep-konsep fisika yang abstrak. Di samping itu faktor guru, metode, dan model pembelajaran juga berpengaruh pada minat siswa untuk mempelajari Fisika. Guru Fisika harus dapat menarik perhatian siswa sehingga mereka berminat untuk mempelajari Fisika. Untuk menarik perhatian siswa, guru Fisika harus memilih strategi pembelajaran yang tepat, menarik dalam menyampaikan materi pelajaran dan mampu menguasai kelas.
Pada model bebas dimodifikasi semua konsep fisika bisa digunakan dengan menggunakan model tersebut. Sebagai contoh pada materi kalor.
Pembelajaran Fisika dengan model inkuiri bebas dimodifikasi ini akan diterapkan di kelas X dengan mengambil contoh satu kompetensi dasar, yaitu menganalisis pengaruh kalor terhadap suatu zat. Adapun skenario pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri bebas dimodifikasi pada kompetensi dasar tersebut dengan mengacu kepada tahapan seperti telah diuraikan di atas adalah sebagai berikut:
- Siswa diberi suatu permasalahan mengenai kalor, permasalahan tersebut disampaikan dalam bentuk pertanyaan. Apakah sama besarnya kalor yang terdapat pada 100 ml air bersuhu 70 0C (wadah A) dan 40 ml air bersushu 70 0C (wadah B)?
- Siswa diminta diminta menjawab pertanyaan tersebut, mungkin ada sebagian yang akan menjawab sama dan sebagian yang lain menjawab tidak sama.Mereka juga diminta memberi alasan jawaban masing-masing. Pada tahap ini terjadi perdebatan diantara siswa. Guru hanya memfasilitasi perdebatan tersebut dan belum perlu untuk memberikan jawaban yang benar terhadap pertanyaan di atas. Namun, peran guru sebagai fasilitas disini adalah bukan memberikan keterangan secara langsung tetapi dengan memberikan contoh-contoh yang relevan terhadap masalah tersebut. Perdebatan juga diarahkan untuk menemukan cara untuk membuktikan kebenaran jawaban masing-masing. Siswa akan mengusulkan berbagai cara untuk membuktikan kebenaran jawaban mereka. Cara-cara tersebut haruslah dapat dilakukan di laboraturium sekolah. Guru mendaftar cara-cara yang diusulkan oleh siswa, kemudian secara bersama mendiskusikan kemungkinan pelaksanaannya. Mungkin akan didapati lebih dari satu cara yang dapat dicoba untuk membuktikan jawaban yang benar. Tetapi apabila dari usulan-usulan tersebut masih belum ada cara yang dianggap tepat dan dapat dilakukan maka guru memberikan petunjuk tambahan yang digunakan untuk mengarahkan jawaban siswa terhadap cara yang dapat dilakukan.
- Siswa diminta untuk melakukan kegiatan atau percobaan untuk membuktikan jawaban mereka secara berkelompok. Kemudian setiap kelompok mempersiapkan presentasi tentang jawaban awal dari permasalahan yang ada (hipotesis), prosedur percobaan untuk membuktikan jawaban tersebut dan menyampaikan hasil percobaan.
- Dengan data yang mereka peroleh selama percobaan, mereka diminta untuk membuat kesimpulan. Hasil percobaan dapat sesuai atau tidak sesuai dengan jawaban awal mereka, atau bahkan tidak dapat digunakan untuk menentukan kebenaran jawaban awal mereka. Mereka juga diminta untuk menilai apa yang sudah mereka lakukan untuk membuktikan jawaban awal, apakah cara pembuktiannya sudah tepat, adakah kelemahan, kelebihan atau perlukah mengontrol faktor lain selama percobaan tersebut.
- Kelompok lain mendengarkan presentasi mereka dan memberikan tanggapan terhadap hasil yang mereka peroleh. Tanggapan dari kelompok lain dicatat dan diberi komentar oleh kelompok yang sedang mempresentasikan hasil percobaannya. Guru menginventaris hasil, kelebihan dan kelemahan masing-masing cara serta guru mengklarifikasi jawaban yang benar dan tepat kepada siswa.
Daftar Pustaka:
Fitriani, Eka. 2012. Studi Komparasi Model Inkuiri Bebas Termodifikasi Untuk Penguasaan Konsep Fisika Siwa SMAN 3 Bantul. Yogyakarta:UNY (Artikel Diakses 27 Februari 2015)
Kunandar. 2007. Guru Profesional:Implementasi KTSP. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Mudalara, I Putu. 2012. Pengaruh Model Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Fisika SMAN 1 Gianyar. Gianyar: Undiksha(Artikel Diakses 27 Februari 2015)
Nugraheni, Intan Puspita. 2006. Pengaruh Model Inkuiri Bebas Dimodifikasi Terhadap Keterampilan Psikomotorik Dalam Pembelajaran Fisika. Surakarta : Universitas Sebelas Maret (Artikel Diakses 27 Februari 2015)
Sani, R A. 2014. Implementasi Kurikulum 2013. Unimed: Unimed Press
Zuriyani, Elsi. 2009. Model Pembelajaran Inkuiri Pada Materi Sains. Palembang (Artikel Diakses 27 September 2013)
0 Komentar