A. Model Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)
1. Pengertian Model Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)
Inkuiri terbimbing ( guided Inquiri ) merupakan salah satu model dimana guru menyediakan materi atau bahan dan permasalahan untuk penyelidikan. Siswa merencanakan prosedurnya sendiri untuk memecahkan masalah. Guru memfasilitasi penyelidikan dan mendorong siswa mengungkapkan atau membuat pertanyaan-pertanyaan yang membimbing mereka untuk penyelidikan lebih lanjut. Jadi, model inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang berupaya untuk menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada siswa, sehingga siswa lebih banyak belajar sendiri dan mampu mengembangkan kreativitasnya dalam memecahkan masalah. Peranan guru dalam model inkuiri terbimbing adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Inkuiri terbimbing ( guided inquiry ) masih memegang peranan guru dalam memilih topik atau bahasan, pertanyaan dan menyediakan materi. Akan tetapi siswa diharuskan untuk mendesain untuk merancang penyelidikan, mengenalisis hasil, dan sampai kepada kesimpulan. Selain sebagai fasilitator tugas guru selanjutnya adalah memilih materi yang perlu disampaikan kepada siswa untuk dipecahkan dan siswa benar-benar ditempatkan sebagai subyek yang belajar tetapi bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan.
2.Karakteristik Model Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)
Menurut Carlo C. Kuhthau dan Ross J. Todd ada enam karakteristik inkuiri terbimbing (guided inquiry) yaitu:
- Siswa belajar aktif dan terefleksi pada pengalaman.
Jhon Dewey menggambarkan pembelajaran sebagai proses aktif individu, bukan sesuatu dilakukan untuk seseorang tetapi lebih kepada sesuatu itu dilakukan oleh seseorang. Pembelajaran merupakan sebuah kombinasi dari tindakan dan refleksi pada pengalaman. Dewey sangat menekankan pembelajaran Hands on (berdasarkan pengalaman) sebagai penentang model otoriter dan menganggap bahwa pengalaman dan inkuiri (penemuan). Sangat penting dalam pembelajaran bermakna.
- Siswa belajar berdasarkan pada apa yang mereka tahu.
Pengalaman masa lalu dan pengertian sebelumnya merupakan bentuk dasar untuk membangun pengetahuan baru. Ausubel prihatin dengan individu yang materi verbal/tekstual dalam jumlah yang besar di sekolah. Menurut Ausubel faktor terpenting yang mempengaruhi pembelajaran adalah melalui apa yang mereka tahu.
- Siswa mengembangkan rangkaian berpikir dalam proses pembelajaran melalui bimbingan
Rangkaian berpikir ke arah yang lebih tinggi memerlukan proses yang mendalam yang membawa kepada sebuh pemahaman. Proses yang mendalam memerlukan waktu dan motivasi yang dikembangkan oleh pertnyaan-pertanyaan yang otentik mengenai objekyang telah digambarkan dari pengalaman dan keingintahuan siswa. Proses yang mendalam juga memerlukan perkembangan kemampuan intelektual yang melebihi dari penemuan dan pengumpulan fakta. Pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi membantu merangsang inkuiri yang membawa kepada pengetahuan dan pemahaman yang mendalam.
- Perkembangan siswa secara bertahap
Siswa berkembang melalui tahap perkembangan kognitif, kapasitas mereka untuk berpikir abstrak ditingkatkan oleh umur,perkembangan ini merupakan proses kompleks yang meliputi kegiatan berpikir, refleksi, menentukan dan menghubungkan ide, membuat hubungan, mengembangkan dan mengubah pengetahuan sebelumnya, kemampuan serta sikap dan nilai.
- Siswa mempunyai cara yang berbeda dalam pembelajaran
Siswa belajar melalui semua pengertianya. Mereka menggunakan seluruh kemampuan fisik, mental dan sosial untuk membangun pengalaman yang mendalam mengenai dunia dan apa yang hidup di dalamnya.
- Siswa belajar melalui interaksi sosial dengan orang lain
Siswa hidup di lingkungan sosial di mana mereka terus menerus saudara, guru, kenalan, dan orang asing merupakan bagian dari lingkungan sosial yang membentuk pembelajaran lingkungan pergaulan di mana untuk mereka. Vigotsky berpendapat bahwa perkembangan proses hidup bergantung pada kognitif. Berdasarkan karakteristik tersebut, inkuiri terbimbing merupakan sebuah pendekatan yang berfokus pada proses berpikir yang membangun pemahaman oleh keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Siswa pengalaman dan apa yang mereka telah tahu. Selain itu, siswa juga belajar melalui interaksi dengan orang lain yang berperan penting dalam kognitifnya.
3. Ciri-Ciri Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Ciri-ciri dari model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah :
- Siswa diberi petunjuk seperlunya, berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat membimbing.
- Digunakan terutama bagi siswa yang belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri.
- Tahap awal pengajaran diberikan bimbingan lebih banyak yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan pengarah agar siswa mampu menemukan sendiri arah dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang disodorkan guru.
- Untuk memecahkan permasalahan yang disodorkan guru, siswa dapat mengerjakan sendiri atau dapat juga diatur secara kelompok.
- Bimbingan dan pengarahan guru lambat laun dikurangi seiring bertambahnya pengalaman siswa dalam belajar secara inkuiri.
Sudirman (1987: 172-173) menegaskan bahwa inkuiri terbimbing
diselenggarakan dengan cara sebagai berikut :
- Problema untuk masing-masing kegiatan dapat dinyatakan sebagai pertanyaan dan pernyataan biasa.
- Konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang harus ditemukan siswa melalui kegiatan belajar harus dituliskan dengan jelas dan tepat.
- Alat/bahan harus disediakan sesuai dengan kebutuhan setiap siswa untuk melakukan kegiatan
- Diskusi pengarahan berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada siswa (kelas) untuk didiskusikan sebelum para siswa melakukan kegiatan discovery- inquiry
- Kegiatan metode discovery-inquiry oleh siswa berupa kegiatan percobaan/penyelidikan yang dilakukan oleh siswa untuk menemukan konsep-konsep dan atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh guru
- Proses berpikir kritis dan ilmiah menunjukan tentang mental operation siswa yang diharapkan selama kegiatan berlangsung.
- Pertanyaan yang bersifat open-ended harus berupa pertanyaan yang mengarah kepada pengembangan tambahan kegiatan penyelidikan yang dapat dilakukan oleh siswa.
- Catatan guru berupa catatan-catatan yang meliputi:
- Penjelasan tentang hal-hal atau bagian-bagian yang sulit dari kegiatan- kegiatan/pelajaran
- Isi/materi pelajaran yang relevan dengan kegiatan
- Faktor-faktor variabel yang dapat mempengaruhi hasil-hasilnya terutama penting sekali apabila kegiatan percobaan/penyelidikan tidak berjalan.
4. Strategi Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Menurut Sanjaya (2010: 196) SPI adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang dipertanyakan. Proses berfikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dengan siswa. Pembelajaran berbasis Inkuiri merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Tujuan utama pembelajaran Inkuiri Terbimbing adalah mendorong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan ketrampilan berfikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran Inkuiri Terbimbing yaitu :
- Strategi Inkuiri Terbimbing menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan.
- Aktivitas siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan.v
- Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran Inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai proses mental.
5. Tahap Pelaksanaan Model Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)
Tahap pelaksanaan model inkuiri terbimbing (Guided Inquiry) terdiri dari:
- Ketidaksesuian pristiwa/kejadian (discrepant event) dan menyajikan masalah
Pembelajaran inkuriri terbimbing diawali dengan penyajiaan guru mengenai masalah yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah dan tidak bisa dipecahakan dengan segera. Wright memberikan suatu definisi mengenai ketidaksesuaian peristiwa (discriepant event) adalah fenomena yang terjadi kelihatannya bertentangan dengan perkiraan awal kita. Ketidaksesuaian peistiwa (dicriepant event) sangat penting dalam inkuiri perhatian pada cara siswa yang membuat mereka lebih keritis terhadap informasi.
- Tambahan
Setelah siswa membuat hipotesis dan mengetahui data yang relevan yang mendukung hipotesis kemudian guru perlu mengidentifikasi cara perkembangan pemikiran siswa. Pada tahap ini dapat dilakukan kegiatan diskusi. Dengan diskusi bakal alami siswa dapat terpelihara dan guru dapat menggembangkan budaya mau mendengarkan atau bergiliran mengemukakan pendapat di dalam kelas.
Laine dan Heath mengemukakan 4 (empat) tahapan proses inkuiri terbimbing:
- Mengumpulkan latar belakang informasi
- Membuat peta konsep, digunakan untuk meringkas informasi yang telah ditemukan
- Inkuiri/penemuan. Yang termasuk kegiatan inkuiri ini adalah membuat pernyataan, memprediksi jawaban/membuat hipotensi, mendisain, percobaan dan melakukan percobaan.
- Analisa data. Setelah data/hasil diperoleh dari perobaan yang telah dilakukan, kemudian data tersebut dianalisis untuk diambil kesimpulan.
David M. Hanson kegiatan inkuiri terbimbing (guided inquiry) terdiri dari 5 (lima) tahapan, yaitu :
- Orientasi
Orientasi menyiapkan siswa untuk belajar orientasi memberikan motivasi untuk beraktivitas, menciptakan minat, membangkitkan keingintahuan, dan membuat hubungan dengan pengetahuan sebelumnya. Pengenalan terhadap tujuan pembelajaraan dan kriteria keberhasilan memfokuskan siswa untuk menghadapi persoalan penting dan menentukan tingkat pengusaan yang diharapkan.
- Eksplorasi
Pada tahap eksplorasi siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan observasi, mendisain eksperimen, mengumpulkan, menguji, dan menganalisis data; menyelidiki hubungan; serta mengemukakan pernyataan dan menguji hipotensi.
- Pembentukan konsep
Sebagai hasil eksplorasi, konsep ditemukan, dikenalkan, dan dibentuka. Pemahaman konseptual dikembangkan oleh keterlibatan siswa dalam penemuan bentuk penyampaian infofmasi melalui naskah atau (discriepant event) sangat penting dalam inkuiri perhatian pada cara siswa yang membuat mereka lebih keritis terhadap informasi melalui naskah atau ceramah.
- Aplikasi
Aplikasi melibatkan penggunaan pengetahuan baru dalam latihan, masalah, dan situasi penelitian lain. Latihan memberikan kesempatan bagi siswa untuk membentuk kepercayaan diri situasi yang sederhana dan konteks yang akrab. Pemehaman dan pembelajaran yang sebenarnya dipelihara pada permasalahan yang mengharuskan siswa untuk mentransfer pengetahuan baru ke dalam konteks yang tidak akrab, memadukannya dengan pengetahuan lain, dan menggunakannya pada cara yang baru dan berbeda untuk memcahkan masalah-masalah nyata didunia.
- Penutupan
Setiap kegiatan diakhiri dengan membuat validasi terhadap hasil yang dapatkan, refleksi terhadap apa yang telah dan menilai penampilan mereka. validasi bisa diperoleh dengan melaporkan hasil kepada teman atau guru untuk mendapatkan pandangan mereka mengenai isi dan kulitas hasil.
Adapun langkah-langkah yang diterapkan dalam pembelajaran dengan menggunakan aktivitas inkuiri terbimbing dapat dilihat pada Tabel 2.1 Proses pembelajaran ini mencakup aktivitas guru dan siswa. Langkah-langkah model pembelajaran inkuiri terbimbing terdiri dari beberapa tahapan, yaitu introduction (pembukaan), questioning (pertanyaan), planning (perencanaan), implementing (pengimplementasian), concluding (penyimpulan), dan reporting (pelaporan).
Langkah-Langkah Pendekatan Inkuiri Terbimbing (dimodifikasi dari Walker, 2007; Wenning, 2007).
B. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Kelebihan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)
Adapun kelebihan – kelebihan metode inkuiri yang dikemukakan oleh Roestiyah adalah sebagai berikut :
- Dapat membentuk dan mengembangkan “Self Concept” pada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide yang lebih baik.
- Membantu dan menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.Mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka.
- Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri.
- Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.
- Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
- Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
- Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
- Dapat menghindari siswa dari cara-cara belajar yang tradisional.
- Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Menurut Amin, inkuiri sebagai strategi pembelajaran memiliki beberapa keuntungan seperti :
- Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
- Menciptakan suasana akademok yang mendukung berlangsungnya pembelajaran berpusat pada siswa.
- Meningkatkan pengharapan sehingga siswa mengembangkan ide untuk menyelesaikan tugas dengan caranya sendiri.
- Mengembangkan bakat individual secara optimal.
- Menghindarkan siswa dari cara belajar menghafal.
Sedangkan Sudirman menyatakan kelebihan model pembelajaran inkuiri adalah:
- Model pembeajaran menjadi berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa sebagai penerima informasi yang baik tetapi proses mentalnya berkadar rendah, menjadi pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi dimana siswa yang aktif mencari dan mengolah sendiri informasi dengan kadar proses mental yang lebih tinggi atau lebih banyak.
- Pengajaran berubah dari teacher centered menjadi student centered. Guru tidak lagi mendominasi sepenuhnya kegiatan belajar siswa, tetapi lebih banyak membimbing dan memberikan kebebasan kepada siswa.
- Proses belajar meliputi semua aspek yang menunjang siswa menuju kepada pembentukan manusia seutuhnya.
- Metode ini dapat memperkaya dan memperdalam materi yang dipelajari sehingga retensinya (tahan lama dalam ingatan) menjadi lebih baik.
Kelemahan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Kelemahan model pembelajaran inkuiri terbimbing menurut Suryobroto (2009: 186) adalah sebagai berikut:
- Dipersyaratkan keharusan ada persiapan mental untuk cara belajar ini.
- Pembelajaran ini kurang berhasil dalam kelas besar, misalnya sebagian waktu hilang karena membantu siswa menemukan teori-teori atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu.
- Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan siswa yang sudah biasa dengan perencanaandan pembelajaran secara tradisional jika guru tidakmenguasai pembelajaran inkuiri.
C. Keterkaitan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dalam Pembelajaran Fisika
Anggapan bahwa pelajaran Fisika merupakan salah satu pelajaran yang sulit dipahami karena banyaknya konsep dan rumus yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, sehingga membuat siswa bingung menerapkan konsep atau rumus dalam menyelesaikan soal. Hal ini menyebabkan siswa kurang meminati mata pelajaran Fisika sehingga aktifitas siswa cenderung rendah dan hasil belajar pun rendah. Oleh karena itu, diperlukan adanya cara atau metode pembelajaran yang dapat menarik minat siswa untuk belajar Fisika sehingga siswa tidak akan lagi menganggap Fisika adalah pelajaran yang sulit,dan hasil belajar siswa dapat memuaskan.
Salah satu cara yang dapat menolong siswa untuk belajar secara bermakna dapat dilakukan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang dapat menunjukkan konsep ilmu secara sistematis yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian yang mempunyai hubungan satu sama lain sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu materi pelajaran. Penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing sebagai kerangka isi akan dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam mempelajari informasi baru, karena merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan konsep-konsep dasar tentang apa yang dipelajari dan hubungannya dengan materi yang telah ada dalam struktur kognitif siswa.
Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dilakukan untuk lebih memahami dan mengingat materi pelajaran dalam jangka waktu yang lebih lama, karena dalam pembelajaran Inkuiri Terbimbing ini siswa diminta untuk menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan. Siswa akan lebih menunjukkan perhatiannya, karena siswa mendapat pengalaman baru yang belum pernah didapat sebelumnya dan siswa dituntut aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang berkaitan dengan kehidupan.
Dengan penggunaan pembelajaran Inkuiri Terbimbing ini guru lebih banyak berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik, sehingga kegiatan guru dalam menjelaskan dikelas agak berkurang. Selain itu dengan pembelajaran ini siswa mengalami enam tahap dimana, tahap pertama mereka harus bisa merumuskan masalah dari kasus yang disajikan oleh guru, tahap kedua mereka harus dapat merumuskan hipotesis dari rumusan masalah yang ada, tahap ketiga siswa harus mengumpulkan data dengan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru, tahap keempat menguji hipotesis dengan membandingkan antara pendapat kelompok satu dengan lainnya, tahap kelima setiap kelompok harus bisa mempresentasikan hasil percobaan dan membuat kesimpulan tentang percobaan yang telah dilakukan.
Hal tersebut akan menjadikan siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Dari pembelajaran ini siswa dilatih untuk bekerja sama dengan siswa yang lain dan juga dilatih untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka kepada teman sekelas mengenai materi yang dibahas, sehingga siswa dapat memperoleh informasi maupun pengetahuan serta pemahaman yang berasal dari sesama teman dan guru.
Daftar Pustaka:
Elyani, Indri. 2011. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Kosep Getaran dan Gelombang. Sripsi: Universitas Islam Hidayatullah Jakarta.
Putri, D.H. 2009. Penerapan Metode Inkuiri Terbimbing Tipe A Menggunakan Media Powerpoint Pada Mata Kuliah Fisika Dasar I Konsep Dinamika Partikel Mahasiswa Semester I T.A ganjil 2008/2009 Podi P. Fisika. Bengkulu : Jurnal Exacta. Vol VII/No.2/ Desember/2009.
Sanjaya, wina. 2010. Strategi Pembelajran. Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Sofiaani, Erlina. 2011. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Kosep Listrik Dinamis. Sripsi : Universitas Islam Hidayatullah Jakarta.
Sudrman, dkk. 1987. Ilmu Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya
Suryosubroto. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta
0 Komentar