"Aku ada dimana? Pemandangan yang sangat asing, apakah aku berada di dunia lain?" Aku berbicara dengan diriku sendiri ketika berada di tempat yang sangat asing. Padang rumput yang sangat luas terletak di tengah, dan ada beberepa rumah di setiap arah mata angin seolah mengelilingi padang rumput. Aku melihat banyak robot yang bekerja sama dengan manusia, aku berjalan dan menghampiri satu rumah.
"Maaf permisi." Aku melihat seorang wanita yang memakai ikat kepala dengan berpakaian memakai rok dan kemeja seperti seorang gadis di ladang pertanian.
"Iya, ada apa?" Gadis itu sangat heran melihat aku.
Dan robot yang membantunya memperhatikan aku dengan saksama.
"Kalau aku boleh tahu, ini dimana ya?"
"Apa!" Gadis itu terkejut dengan pertanyaanku. Sepertinya dia tahu bahwa aku bukan penduduk dunia ini.
"Kamu mau tidak membantu aku berladang? Nanti aku jelasin ini tempat apa." Tawaran dari gadis tersebut yang aku rasa tidak ingin memberikan informasi secara cuma-cuma.
"Baiklah, aku akan bantu." Aku mensetujui persyaratan yang diajukan karena bagaimana pun juga aku harus pulang.
Aku dan robot wanita itu bekerja di ladang, sedangkan wanita itu ada di rumah. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Ketika jam istirahat telah tiba, wanita itu datang dengan membawa keranjang. Kami duduk di bawah pohon yang memiliki bunga berwarna pink, aku berfikir ini merupakan sakura ketika selintas melihat. Ternyata bukan pohon sakura, hanya hampir mirip saja. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari keranjang yang dibawahnya. Ternyata makanan-makan yang dibuat olehnya khusus untuk makan siang.
"Ini makanlah." Memberikan roti isi sayur dan daging kepadaku.
"Terima kasih." Aku langsung memakan tanpa ragu, karena lapar telah menyerang perutku.
"Nama aku Emili." Wanita itu mengulurkan tangan kepadaku.
"Ananta." Aku menyambut jabat tangannya.
"Kamu lagi tersesat di dimensi ini?"
"Dimensi? Tunggu bukankah ini dunia lain?" Kebingungan mulai menyergapku.
"Lebih tepatnya dimensi lain." Emili mengatakan dengan tegas.
"Sungguh aku bingung."
"Jarang ada manusia yang ke dimensi kami, bahkan tidak pernah ada. Hanya manusia yang benar-benar mencapai tingkat tertinggi dalam pengetahuan dan keimanan yang dapat masuk ke dimensi kami."
"Apa maksudnya?" Aku menjadi semangkun bingung.
"Ini adalah dimensi tertinggi dari dimensi jin. Dimana teknologi dan seluruh kehidupan berjalan dengan sangat damai. Tidak ada kerusakan disini, mau pun iri dengki. Disini sangat murni." Emili menjelaskan dengan saksama.
"Aku kira aku masuk di dunia lain."
"Tidak, ini masih di dunia yang sama tapi dengan dimensi yang lain." Emili kembali menegaskan.
"Lalu bagaimana cara aku pulang?"
"Kamu akan menemukan jalan pulang sendiri. Sama seperti kamu masuk dimensi ini dengan sendirinya. Bahkan sebangsa kami yang tinggal di dimensi jin tidak akan bisa masuk ke dimensi kami. Kamu sungguh luar biasa." Pujian Emili membuat aku sangat gugup.
"Lalu bagaimana cara aku bisa kembali ke dimensi ini?"
"Seperti yang aku sudah bilang pengetahuan dan keimanan harus saling berdampingan. Hmm... Sudah waktunya kamu pulang Ananta. Terima kasih telah membantu saya di ladang."
"Pasti saya akan sangat rindu dengan tempat ini." Kata-kata terakhir yang aku ucapkan kepada Emili.
Dengan cepat cahaya putihmenelanku dan membawa aku pulang kembali ke dimensiku.
0 Komentar