Dunia membuat aku penuh tanya dari setiap pesona yang tertulis lirih mengisahkan setiap kisah yang tidak dapat diceritakan satu persatu. Bergejolak hingga meremukkan rusuk pelindung hati, hati yang hancur bercerai berai bagai ronah tidak dapat dikatakan. Aku sering berbincang kepada takdir, mengapa takdir mwngisahkan kisah selalu menjauh. Tapi lucunya takdir hanya tertawa, melihat aku yang bodoh dengan pertanyaan yang seharusnya tidak boleh ditanyakan.
Masa ke masa perjalananku suram, setiap masa terlewati hingga menapak jalan ini. Aku pernah berada di suatu masa dimana aku memiliki kejayaan atas pencapaian hidup. Menikmati dari apa yang ada terlihat, tapi kisahku karam dihempas waktu yang lebih anggun. Aku hilang tanpa jejak, dan tidak ada bayangan yang sengaja tertulis. Hingga masa kini tiba, tidak ada jejak dahulu yang sangat aku banggakan dalam kejayaan. Siapakah aku?
Aku adalah seorang putri yang terlahir di jaman kejayaan negaraku. Kekuasaan ayahanda sangat luas, negara yang luas terdiri dari banyak pulau. Dan hanya satu pusat pemerintahan, di umurku lima tahun aku pernah bertanya kepada ayahanda sewaktu bekerja di ruang kerjanya.
"Ayah, negara kekuasaan ayahanda luas sekali. Bagaimana cara ayahanda mengatur seluruhnya, padahal terdiri dari pulau-pulau." Aku sangat kagum melihat kegigihan ayahku yang bisa mengatur keadaan negara.
"Putriku, suatu saat nanti kamu akan belajar untuk mengurus negara ini, walau kita banyak daerah yang terpisah dari lautan jika kita memiliki satu jiwa, satu rasa antar rakyat dan pemimpin maka kita akan tetap dalam kejayaan yang utuh." Ayah menjelaskan dengan bahasa sederhana agar aku paham karena masih kecil.
"Ananda akan belajar keras ayahanda."
"Ingat putriku, kejayaan hanya diperoleh kita keimanan kita kepada pencipta dan Sang pemilik hidup benar dan yakin. Kuncinya hanya satu keimanan."
"Baik ayahanda, ananda akan selalu ingat pesan ayahanda."
Kata-kata ayahanda tidak akan pernah aku lupa hingga saat ini, walau zaman telah berlalu ratusan ribuan tahun yang lalu.
Raja yang luar biasa, memiliki karisma yang luar biasa. Memiliki rasa yang sama seperti rakyat, tidak pernah mengeluh akan semuanya. Badan tinggi tegap dengan kulit putih memiliki kumis tebal dia adalah ayahandaku.
Aku adalah putri pertama dari kedua saudaraku. Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang pandai dalam strategi bernegara, dari kecil kakak selalu diberikan tugas kepercayaan mengatur tiap daerah. Aku sangat jarang bertemu dengan kakak. Aku juga memiliki seorang adik perempuan yang memiliki paras ayuh, keanggunan dan kecantikannya tidak dapat dipertanyakan lagi. Dia paling suka menari daripada belajar tatanegara maupun berperang. Dia seperti cerminan ibunda, ibunda yang telah lama meninggal ketika melahirkan adik perempuanku. Ratu kinansih yang memiliki keanggunan, tinggi, putih, lembuh dan sangat cantik. Ibunda bukan seorang putri dari seorang raja, tapi hanya seorang rakyat biasa yang selalu mengalami perundungan. Ayahanda sangat mencintai ibunda, hingga ayahanda tidak pernah memiliki selir maupun memiliki ratu baru. Kesetiaan cinta yang sangat mengagumka.
Di umurku yang kesepuluh aku diajarkan berpedang, berkuda dan memanah. Aku diajarkan strategi berperang dan bernegara. Aku ingat betul aku mempunyai seorang guru yang mengajarkan dalam berpedang. Mpuh Salansah, seorang pria tegas yang memiliki banyak keahlian. Banyak terlahir prajurit-prajurit luar biasa dari didikan beliau. Hanya satu kata yang selalu membuat aku ingat dalam menggunakan senjata.
"Ingat, fokus! Rasakan senjata yang ditanganmu adalah bagian dari dirimu. Dengan begitu ketika kamu melepaskan dan mengayunkannya dia akan mengikuti keinginanmu dan tepat akan mengenai target." Kata-kata yang tidak akan pernah aku lupa.
"Jika kamu ingin menggunakan ilmu bela diri, maka alirkan seluruh energi dalam diri berpusat ke kepalan tangan jika ingin meninju, lepaskan jangan ragu, jangan ditahan!" Beliau memang tegas.
Di ulang tahunku yang ke dua belas ayahanda memberikan aku hadiah. Sebuah pedang yang sangat indah, ukiran yang indah yang tidak pernah dimiliki oleh siapa pun di dunia ini. Ayah tahu aku suka menggunakan pedang, ini adalah kado pertamaku yang paling berharga. Aku dan saudaraku yang lain bukanlah sama seperti anak lainnya. Kami memiliki beban yang berat untuk tetap mempertahankan kejayaan negara. Setiap waktu hanya dihabiskan untuk belajar tanpa mengenal lelah. Walau kehidupan seperti ini aku merasa senang karena aku bermanfaat bagi rakyatku. Aku besar dengan didikan yang luar biasa.
"Adinda, sebentar lagi pemilihan penerus."
"Kakanda baru pulang?" Aku sedang duduk berbincang dengan adikku saras wati.
"Kakanda, sangat mendukung adinda purawasih menjadi penerus negara ini. Menjadi ratu yang memimpin rakyat."
"Apa maksud kanda, kanda lebih berpotensi dari pada saya." Aku sangat heran dengan perkataan kanda.
"Yunda, ananda juga sangat setujuh dengan perkataan kanda. Hanya yunda yang memahami hati rakyat dan pandai mengurus negara ini dari pada kita. Yunda, saat ini ayahanda sudah mulai sakit-sakitan. Ayahanda butuh seorang yang membantu."
"Tapi kanda..."
"Dinda, kanda akan selalu mendukung kamu. Kanda selalu berada disisi kamu. Kanda akan selalu setiap kepada kamu."
Inilah adab dan moral yang diajarkan negara ini, setiap orang tidak memperebutkan posisi kepimpinan. Tapi mendukung yang pantas dan berpotensi serta bekerja sama untuk menciptakan negara yang nyaman dan luar biasa.
Akhirnya diumurku yang kelima belas, aku ditetapkan menjadi penerus pemerintahan. Aku menjadi seorang ratu, semua saudara dan saudariku mendukungku dengan dukungan penuh. Mereka tidak pernah berkhianat maupun merebut posisiku. Aku sangat merindukan mereka kini. Aku sangat beruntung memiliki keluarga yang menyayangiku.
Di umurku yang keenam belas, ayahanda pergi meninggalkan kami. Ayanda kini telah bersatu dengan ibunda di suatu tempat yang tidak bisa kami kunjungi dengan tubuh ini. Sangat jauh hingga tidak mampu terlihat. Seluruh rakyat berduka, seorang pemimpin adil, jujur dan mencintai rakyat telah tiada. Duniaku rasanya runtuh, ketika seorang panutan pergi meninggalkan. Ayah banyak mengajarkan banyak hal dari kecerdasan yang dimiliki. Ayah selalu berusaha membuat kedamaian, jangan ada perang yang mengorbankan jiwa. Seluruh negeri berduka selama seminggu, para rakyat dari penjuru daerah menangisi raja yang telah pergi. Ini menjadi bom yang meledak dalam kehidupanku dan melumpuhkan semangatku. Hingga aku sadar aku adalah seorang ratu yang memerintah seluruh rakyat. Jika aku lemah maka rakyatku akan menderita. Dan akhirnya aktivitas kami berjalan seperti biasanya.
Kakanda Anji Sena telah menikah dan tinggal jauh dari istana. Walau kanda selalu datang ke istana tapi ada perasaan sunyi yang hinggap. Tapi aku tahu harus segera mengatasinya. Hingga tiba saatnya adikku menikah dengan seorang saudagar kaya dari negeri timur. Mereka jatuh cinta ketika berada di pusat pasar. Apa yang harus aku lakukan, cinta tidak dapat dihalangi, aku merelakan adik yang paling aku sayangi untuk tidak dipersunting negara lain. Sedangkan aku telah menerima setiap surat lamaran dari negara lain. Entah kenapa hatiku belum terketuk untuk menikah, aku lebih memilih fokus pada rakyat dan pemerintahan.
💎💎💎
Di alun-alun kota pusat ibu kota negara akan diadakan seleksi kepala jenderal pasukan. Terjadi pertandingan untuk merebutkan posisi tersebut. Para pemuda berbagai negara di dunia ini datang dan terus bertanding menjadi seorang pemenang.
Hingga aku menemukan satu orang pemenang yang kekuatannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Dia memiliki gelar kerajaan, seorang putra dari negeri sebrang. Purbaya seorang yang memiliki gelar, seorang yang luar biasa dari setiap gelar tercatat.
Kini dia menjadi panglima jenderal tertinggi di negaraku, strategi perangnya membuat wilayah kekuadaan negara semangkin bertambah luas. Dia sama seperti ayahku menempuh negoisasi dlama penaklukkan jika gagal maka akan ada perang yang mencoba akan ada korban jiwa yang sedikit.
Aku jatuh cinta kepadanya, sangat mencintainya. Sikap hangat yang dia berikan, serta kelembutan jika berhadapan denganku. Padahal dia adalah orang yang terkejam di luaran dan sangat tegas. Ternyata bukan hanya aku yang mencintai dia, dia juga sangat mencintaiku sebelum bertemu aku. Untuk itu dia mengikuti kompetisi menjadi jenderal. Akhirnya aku menemukan seorang yang tepat, seseorang yang cintanya sangat luar biasa padaku. Tidak ada satupun ujian cinta yang tidak dapat kami lewati.
Kami menikah di saat bulan besar, bulan purnama yang menyinari bumi seakan ikut bergembira atas pernikahan kami. Baju putih adat menjadi gaun yang aku pakai di acara terpentingku. Ada hiasan kuntum melati di tata rambutku. Sangat meriah, rakyat menyambut bahagiah hari terpentingku. Bahkan sangat banyak kado yang merupakan hadiah hari bahagiahku. Semua menikmati dengan sangat luar biasa, rakyat bahkan alam ikut senang akan keputusanku ini.
Kehidupan suami istri kami berjalan dengan lancar, hanya terjadi pertengkaran kecil sepele yang biasa dilakukan oleh pasangan normal. Tapi kami saling mencintai, bahkan dia tidakm memilih selir hanya untuk bersamaku hingga akhir. Kami juga membuat lukisan yang istewa dengan duduk di bawah pohon sebagai kenang-kenangan.
Suatu hari dengan tiba-tiba saja muncul pemberontakan, adik ayahku memberontak kekuasaanku. Mengadu domba para petinggi, rakyat dan para pemimpin negeri lain yang bekerja sama dengan negaraku atau tidak bekerja sama dengan negaraku. Paman mengincar takhta yang aku dududki. Kondisi yang sangat rumit mengharuskan dia Rajaku harus pergi berperang.
"Kanda, ananda ikut bersama kanda." Aku yang sedang membujuk dia untuk ikut berperang.
"Jangan Dinda, ini bukan latihan berpedang yang sering kita lakukan bersama." Setiap hari kita melakukan latihan berpedang di halaman belakang istana.
"Tapi kanda, ini negaraku. Aku harus berperang demi negaraku."
"Dinda, kamu harus di pusat pemerintahkan untuk mengatur semua sistem pemerintahan dan rakyat. Jangan biarkan posisi itu kosong, biarkan ananda sebagai raja sekaligus jendral di negara ini mengatasi pemberontakan yang ada. Paham?" Purbaya menatap dengan penuh dalam.
"Paham kanda." Kata-kata yang ku dengar sangat masuk akal, siapa lagi yang akan mengatur rakyat jika aku tidak ada. Yang ada hanya kekacauan yang terjadi karena posisi kosong.
Aku mengantar rajaku sampai di perbatasan ibu kota, sebelum dia pergi untuk waktu yang cukup lama bersama ribuan pasukannya. Sebelum pergi dia tersenyum padaku.
"Percayalah sayang, ananda akan segera kembali." Aku mencium tangannya dengan harapan dia kembali dengan selamat.
"Kanda." Dia mengecup keningku dan pergi berlalu.
Dia sempat menoleh kebelakang setelah beberapa langkah memutuskan untuk pergi, dia tersenyum padaku dan berusaha meyakinkanku bahwa semua dalam keadaan baik terkendali.
Berbulan-bulan raja belum kembali, kini sudah delapan bulan dengab angkuhnya. Aku semangkin resah dengan kecamukan rasa kawatir di dalam dada. Namun semua telah hilang ketika pasukan raja kembali ke kerajaan.
"Yang mulia ratu." Seorang prajurit menghadap kepada aku.
"Ada apa?"
"Yang mulia raja telah kembali dari medan pertempuran."
"Benarkah?"
"Benar yang mulia."
Aku yang mendengar bahwa raja telah kembali merasa sangat senang, akhirnya aku tidak sendiri lagi memerintah negara. Kekasihku telah kembali.
Aku berdandan secantik dan serapi mungkin untuk menyambut raja para rakyat yang sekaligus suamiku. Aku menyambutnya di pintu masuk kerajaan bersama dengan para bawahan setiaku. Aku bisa melihat gerombolan pasukan khusus yang kembali ke istana.
"Yang mulia raja." Aku sangat senang bisa melihat raja kembali dengan selamat.
"Ratuku." Dia memelukku dengan sangat erat melepas kerinduan yang terpendam.
"Selamat atas kemenangan-kemenangan yang diperoleh oleh yang mulia, dan terima kasih sudah kembali dengan selamat."
"Iya syangku."
Kami berpelukan melepas kerinduan yang lama terpendam, hangat pelukannya membuat hati sangat nyaman.
"Ratuku, aku mempunyai hadiah untuk kamu."
"Untuk ananda?" Aku melepas pelukan dan mencari hadiah yang dimaksud.
"Benar, kemarilah!"
Aku sangat senang raja akan memberi hadiah, tapi senyumanku memudar ketika melihat seorang wanita yang turun dari kereta kuda.
"Siapa dia kanda?"
"Dinda, dia adalah sekar asih. Putri dari kerajaan Mawera."
"Apa maksudnya ini kanda?"
"Dia bisa jadi teman kamu dinda."
Aku terkejut dengan perkataan suamiku, apa maksud dengan semua ini. Kenapa dia kembali membawa seorang wanita yang tidak di kenal. Aku berlari masuk ke dalam istana untuk menenangkan hati, tanpa perduli panggilan raja. Sesekali aku melihat kebelakang dan wanita itu menunjukkan sisi lemah sehingga dikasihani dan menempel dengan raja. Hatiku sangat sakit.
"Sikap apa itu tadi dinda?" Kami yang berada di kamar dan sedang meributkan perempuan itu.
"Sikap apa? Kanda berani bertanya? Setan apa yang menempel pada kanda sehingga kanda membawa pulang seorang gadis? Kanda ingin menjadikannya selir?" Sungguh aku sangat cemburu.
"Dinda aku berperang di wilayah perbatasan sebelah utara negara untuk mengusir pemberontak dan sekutu pemberontak, aku menemukannya terluka di hutan sekitar semak-semak. Dia adalah putri raja dari negara Mawera yang kabur karena perjodohan. Ibu tirinya ingin menikahkan dia dengan raja tua negara barat yang mempunyai selir banyak. Sedangkan ayahnya setuju karena terpengaruh ibunya. Kehidupannya setiap hari penuh dengan kesusahan, karena keberaniannyalah dia dapat kabur dan sampai di perbatasan negara kita."
"Kanda kamu sadar yang telah kamu lakukan? Kamu telah menghianati cinta kita dengan membawa gadis itu ke istana kita."
"Dinda."
"Usir dia kanda, usir dia dari istana dan kehidupan kita."
"Tidak bisa dinda."
"Kenapa kanda? Apa kamu ingin membuat dia menjadi selir?"
"Tidak dinda, di dalam kehidupanku tidak ada selir. Hanya ada satu ratu."
"Aku sakit kanda." Aku menangis dengan rasa kecewa yang luar biasa.
"Jika kanda tidak ingin usir dia, aku akan menahan dia di penjara."
"Dinda!!" Untuk pertama kalinya aku mendapat bentakan suara keras dari raja, dan itu hanya karena perempuan.
"Baiklah dinda, aku akan pergi dari istana ini bersama dia. Aku kira kamu memiliki belas kasih untuk menolongnya, tapi ternyata aku salah." Dia pergi meninggalkanku sendirian, pergi jauh.
"Kanda..... Kanda.....!!"
Suara panggilanku tidak di dengarnya lagi, kenapa hidupku menjadi hancur seperti ini. Suamiku lebih memilih wanita lain dan tunduk kepada perkataan wanita itu.
Malamnya pemberontakan terjadi dari dalam istana, paman memasuki istana dengan menyusup dan berhasil melumpuhkan para petinggi negara. Sekaligus melumpuhkan aku dengan ramuan sehingga aku tidak bisa menggunakan kemampuanku untuk melawah dan melindungi rakyat. Dalam waktu sekejap pemerintahan telah diduduki dan kini yang mengatur negara adalah pamanku. Kakakku beserta keluarga di penjara, sedangkan adikku aku perintahkan untuk tidak ikut campur. Karena aku takut dia beserta keluarganya terluka. Duniaku kelam, sangat kelam, seorang ksatria telah pergi meninggalkan aku untuk selamanya yang kini tidak tahu keberadaannya di mana. Sedangkan aku disini menjadi boneka hidup hiasan pamanku. Paman tidak memenjarahkan aku atau mengasingkan aku ke daerah lain. Tapi dia malah menikmati tubuhku, ternyata telah lama paman mengimpikan untuk bersetubuh denganku. Setiap malam hingga pagi matahari terbit aku harus melayani nafsu pamanku, baik secara sukarela maupun di paksa. Paman sering melakukan kekerasan sebelum melakukan hubungan badan untuk menambah gairahnya dalam bercinta. Ketika aku hamil, dengan paksa paman mengugurkan kandunganku. Semua terus berulang seperti itu. Sungguh aku tidak kuat lagi.
Ketika ada kesempatan aku kabur dari istana, aku berlari ke tengah hutan. Aku terus berlari tanpa henti dan aku dikejar oleh seorang wanita yang aku tidak tahu siapa. Aku terpojok di tepi jurang dan tidak tahu harus lari kemana lagi. Dibdepanku ada seorang gadis memegang pedang, sedangkan di belakangku, kanan dan kiri adalah jurang. Wanita itu terus mendekat, dan aku semangkin terdesak. Akhirnya wanita itu menusukkan pedang di perutku hingga tembus.
"Akhirnya aku bisa membunuhmu purwasih.,"
"Kamu?" Aku menahan sakit yang luar biasa dari tusukan pedang
"Kamu telah merebut purbaya dariku, dia meninggalkan sistana dan memutuskan perjodohan karena dia mencintai kamu."
Baru aku tahu wanita itu menyimpan dendam kepada ku. Aku tidak tahan lagi, aku goyah dan terjatuh ke dalam jurang. Aku bisa melihat dengan jelas gadis itu tersenyum bangga di atas tebing ketika melihatku terjatuh. Pedang yang masih menancap ditubuhku bagai sumber kehidupanku kini. Perlahan dunia semangkin gelap dan aku melihat ada banyak kenangan.
💎💎💎
"Ratuku lihat apa yang kanda bawa."
"Apa itu kanda?
Aku membuka kotak dan melihat kalung berbandul batu zamrud.
"Indah sekali kanda."
"Batu ini adalah lambang kamu sayang, selamat ulang tahun pernikahan kita."
"Selamat ulang tahun pernikahan."
"Sini aku akan pakaikan." Raja yang memakaikan kalung hadiah pernikahan yang hanya ada satu-satunya di dunia kepada ratu.
💎💎💎
"Kanda kenapa sejarah kerajaan kita tidak kita rulis di prasasti, sebagai tanda di masa depan bahwa kerajaan kita pernah ada dan memiliki peradapan yang sangat maju.
"Tidak dinda, tentang kita, tentang kerajaan akan selalu diingat oleh semua orang. Kisah kita akan diceritakan turun-temurun, Dengan itu kita akan selalu hidup. Prasasti hanya sebuah tulisan tanpa diingat, sedangkan kita akan selalu diingat."
"Baiklah kanda." Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan.
💎💎💎
"Kanda aku merindukanmu, aku mengalami kesusahan membutuhkan bantuanmu kanda. Kanda dalam hidupku baru kali ini aku merasa takut, sangat takut."
Tubuhku terus terjatuh ke dasar jurang, hingga kini aku sadar aku telah tiada.
0 Komentar